Tampilkan postingan dengan label Yogyakarta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Yogyakarta. Tampilkan semua postingan

Jumat, 05 Juni 2015

dibuang sayang: Mengenang Jlebret Art



oleh Dwi S. Wibowo
karya Nyoman Sukari
Sejak pertama kali diperkenalkan oleh jackson pollock pada pertengahan tahun1950-an di Amerika, gerakan seni abstrak ekspresionisme yang mulanya ditolak karena dianggap tidak memenuhi unsur-unsur seni rupa konservatif a la eropa, ternyata justru menjadi gelombang besar yang tidak bisa dibendung di seluruh dunia. Teknik yang diciptakan oleh pollock secara tidak sengaja ini, rupanya justru didukung oleh wacana psikoanalisa yang justru tengah berkembang di eropa.
Sebagaimana dalam psikoanalisa Freud, manusia dalam segala aktivitasnya selalu dipengaruhi oleh bawah sadarnya. Termasuk di dalam seni. Wacana ini sontak saja meruntuhkan kaidah seni eropa yang menjunjung tinggi akal dan logika dalam proses penciptaan seninya.
Abstrak ekpresionisme lahir sebagai peneguhan hakikat manusia dalam suatu proses penciptaan seni. Aliran ini mengakomodir suara-suara yang menganggap bahwa seni merupakan puncak ekspresi manusia, oleh karenanya seni bisa hadir dengan sangat natural tanpa rekayasa intelektual apapun. Dalam hal ini, estetika hadir sebagai representasi dari insting seniman.
Di Yogyakarta, gelombang ini sempat menghadirkan keresahan dalam dunia seni rupa, sehingga disikapi secara nyinyir dan sinis oleh sebagian pihak. Lukisan-lukisan abstrak ekpresionisme ini kemudian disebut dengan istilah Jlebret art, karena proses melukisnya yang hanya menciprat-cipratkan cat di permukaan kanvas. Seakan-akan orang yang tak mengerti seni pun sanggup membuatnya. Namun tanpa disangka, pandangan nyinyir tersebut runtuh seketika, lukisan-lukisan ini justru menemukan tempat di hati para kolektor seni.
Jlebret art sukses menjadi jembatan dari periode surrealisme Yogyakarta menuju ke periode lukisan-lukisan kontemporer yang menjamur di era 2000-an. Terbukti dengan terjadinya periode boom seni yang melahirkan nama-nama besar seperti Made Sukadana, Nyoman Sukari, dan Entang Wiharso. Mereka adalah nama-nama yang sempat mencecap manisnya madu Jlebret Art, lukisan mereka dihargai dengan nilai yang terbilang fantastis dan menjadi komoditas yang menarik minat para kolektor, sekaligus investor. 
karya Entang Wiharso
 Booming Jlebret art memang tidak sepenuhnya sebagai sebuah fenomena seni semata, melainkan juga merambah ke wilayah ekonomi. Indonesia yang pada masa itu dilanda krisis ekonomi yang melanda berbagai aspek, yang ditandai dengan merosotnya harga-harga saham ternyata justru membawa angin segar bagi dunia seni. Kalangan investor membutuhkan investasi yang cukup aman nilainya, dan seni, pada saat itu dianggap sebagai salah satu pilihan yang menjanjikan.
Para gallerist dan makelar seni bertebaran dimana-mana. Harga karya seni didongkrak naik melalui permainan isu. Fenomena inilah yang kemudian memunculkan wacana goreng-menggoreng karya seni. Adi Wicaksono, sebagai seorang kritikus muda pada masa itu memang sangat kritis terhadap fenomena mendongkrak harga karya seni tersebut. Seni dianggap sebagai komoditas semata sehingga kehilangan nilai-nilai adiluhungnya.
Padahal, di awal kelahirannya di Yogyakarta, aliran abstrak ekspresionis ini dianggap sebagai bentuk ekpresi jiwa, dan dikait-kaitkan dengan aspek spiritualitas para senimannya. Situasi ini sempat memanas, karena sebagian seniman merasa terlecehkan dengan adanya kritik tersebut. Namun pada akhirnya dapat redam dengan sendirinya, dan dunia seni bergulir dengan dinamikanya sendiri.
Sejak dipopulerkan oleh para perupa asal Bali di Yogyakarta pada kisaran tahun 90-an, hingga hari ini, para seniman tersebut masih begitu konsisten untuk menjadi penganut mahzab pollock. Meskipun sebagian dari mereka, mencoba mengembangkan gaya melukisnya ke arah lukisan-lukisan dekoratif yang lebih mengakomodir gagasan-gagasan kontemporer yang saat ini berkembang di dunia seni rupa Indonesia. Tanpa dipungkiri juga bahwa gaya tersebut juga mengakomodir selera para kolektor. 

*) tulisan ini pernah dipublikasikan di Jogjareview.net

dibuang sayang: Spiritualitas Tarian Warna

oleh Dwi S. Wibowo

karya Nyoman Erawan
Berbicara mengenai perupa asal Bali yang tinggal di Yogyakarta tentu tidak ada habisnya, selain karena jumlah mereka yang secara komunal begitu banyak, prestasi yang mereka torehkan dalam jagat seni rupa juga tidak sedikit. Entah sejak kapan persisnya para perupa asal Bali ini mulai bermisgrasi ke Yogyakarta, yang jelas sejak awal era 60-an telah tercatat nama Nyoman Gunarsa sebagai salah seorang mahasiswa di Akademi Seni Rupa Indonesia (sekarang ISI Yogyakarta).

Pasca Nyoman Gunarsa, para perupa-perupa asal Bali datang berbondong-bondong ke Yogyakarta untuk menimba ilmu sekaligus mengadu nasib di perantauan. Banyak di antaranya yang setelah purna menempuh pendidikan kemudian tumbuh menjadi nama-nama besar dalam dunia seni rupa, mereka antara lain Made Wianta, Made Budhiana, Nyoman Erawan, Putu Sutawijaya, Nyoman Masriadi, termasuk deretan nama yang paling muda antara lain Gede Arya Sucitra, Komang Sinduputra, hingga Gede Oka Astawa.

Jika diingat, pada kisaran awal tahun 90-an para perupa asal pulau dewata ini mampu menciptakan gelombang aliran Abstrak ekspresionis. Sebagian besar dari mereka tetap menampilkan eksotisme kesukuannya, antara lain dengan masih mengabstraksikan ornamen-ornamen lokal yang mereka bawa dari daerah asalnya. Seperti misalnya barong, tari kecak, maupun motif-motif poleng khas Bali. Dan ternyata, melalui aliran abstrak ekspresionis ini, ornamen-ornamen tersebut justru mampu hadir secara hidup. Jika dalam lukisan realisme, ornamen tersebut tampil diam, maka dalam abstrak ekspresionisme ini gerak tariannya seolah turut dilukiskan.

Aliran ini juga seakan-akan menjadi wabah yang menjangkiti hampir sebagian besar perupa di yogyakarta pada tahun-tahun tersebut. Mereka ramai-ramai menuangkan cat kemudian mencipratkannya secara sembarang, spontan dengan mengandalkan intuisi. Bukan tanpa alasan aliran ini digandrungi oleh para perupa, proses melukis dengan cara ini terbilang lebih cepat jika dibandingkan dengan melukis realis menggunakan kuas. Selain itu pada kisaran tahun tersebut, lukisan-lukisan beraliran ini juga boleh dibilang laku di pasaran. Bahkan, pasar sempat mencatat karya Made Sumadiyasa yang laku seharga 50 juta rupiah pada masa itu. Maka tak heran jika banyak perupa lain yang turut kepincut untuk menekuni aliran ini, diakui atau tidak, rupiah tetap menjadi iming-iming yang menjanjikan.
"Happiness of mountain" karya Putu Sutawijaya

Selain Made Sumadiyasa, perupa lain yang begitu konsisten menekuni aliran ini antara lain Putu Sutawijaya. Di atas permukaan kanvas yang berlatar percampuran warna-warna tanah, Pelukis kelahiran Tabanan ini mengolah figur-figur anonim yang merupakan visualisasi dari tarian Sanghyang. Tarian Sanghyang sendiri merupakan sebuah tarian sakral yang biasa ditampilkan di pelataran pura, para penari dalam tarian ini akan bergerak secara bebas, seolah dirasuki ruh leluhur atau dewa. Bagi Sutawijaya, visual yang ditampilkannya di atas kanvas merupakan sebuah gambaran dari the Holly Spirit yang merasuk ke tubuh penari, atau yang oleh mereka biasa disebut Taksu.

Sebenarnya, teknik melukis tanpa kuas dalam aliran abstrak ekspresionis ini dikenal dengan nama teknik gestural. Teknik ini mengandalkan kecepatan respon dan kelincahan tangan dalam menuangkan cat ke permukaan kanvas yang biasanya digelar secara mendatar, bukan berdiri sebagaimana lazimnya orang melukis. Teknik semacam ini memang kerap dilakukan dengan memainkan emosi pelukisnya tersendiri, bahkan banyak anggapan yang menyebut bahwa teknik ini lahir melalui situasi trans yang dialami oleh pelukis. Seolah-olah proses melukis tersebut didominasi oleh pikiran bawah sadarnya.

Para penganut abstrak ekspresionnis asal Bali ini meyakini benar pendapat tersebut, karena bagi mereka melukis merupakan sebuah proses spiritual. Sebagaimana kebanyakan orang bali, berkesenian atau melukis pada khususnya memang menjadi bagian dari keseharian. Proses ini tidak dihayati sebagai sebuah pekerjaan atau hobbi semata, melainkan sebagai bagian dari ritual adat yang mereka jalani sehari-hari. Diyakini bahwa melalui jalan kesenian hubungan antara manusia dengan sang pencipta dapat terjalin selaras. Melalui kesenian jugalah, manusia sebagai makhluk ciptaan dapat memberi persembahan bagi pencipta yang agung. Maka tidak heran jika dalam lukisan-lukisan mereka selalu terlampir nilai-nilai spiritualitas.

*)tulisan ini pernah dipublikasikan di Jogjareview.net

Rabu, 03 Juni 2015

Latepost: Metamorfosa Masa Muda



oleh Dwi S. Wibowo

karya Widjanarko Ismail
 Seni tidak selamanya menjadi milik orang-orang tua usia yang lelah menempuh perjalanan hidup dengan segala macam pengalaman, problematika dan juga renungan di dalamnya. Ungkapan tersebut kedengarannya cukup pas untuk memasuki sebuah pameran yang digelar di Galeri Lorong sejak Jumat (29/8/14) lalu.
Setelah melewati tangga sempit untuk menuju ruang galeri yang terletak di lantai dua tersebut, perhatian kita akan segera terseret untuk menuju ke sebuah karya yang terletak justru di pojok ruangan; sebuah instalasi yang terdiri dari lukisan berukuran mini, sebuah peci, dan topi hitam. Instalasi tersebut merupakan karya Wijanarko Ismail yang menjadi bagian dari sebuah pameran bertajuk “Respice, Adspice, Prospice.”
Pameran tersebut digelar oleh sekelompok perupa muda yang menamakan dirinya Memento Mori. Dengan dorongan dari kelompok seni Ketjil Bergerak, mereka mencoba memberanikan diri untuk menawarkan sebuah cerita melalui pameran seni rupa. Memento Mori sendiri merupakan komunitas seni rupa yang rata-rata anggotanya adalah alumni dari Sekolah Menengah Seni Rupa Yogyakarta.
Dari karya Wijanarko Ismail yang berjudul “Dari Gelap ke Terang” tersebut, gambaran umum dari narasi yang diusung dalam pameran ini secara samar sudah dapat diterka. Mereka, para perupa muda, ingin menarasikan sebuah proses perubahan hidup yang mereka alami.
Ismail, yang baru lulus dari SMSR tersebut, mengaku bahwa karyanya memang menggambarkan refleksi personalnya tentang cara memandang spiritualitas. Terutama perubahan signifikan yang dialaminya. “Saat kecil saya terbiasa di dalam masjid, dan memandang segala persoalan dari sudut pandang agama. Tapi setelah mengenal seni, saya jadi bisa melihat persoalan agama dari luar masjid,” katanya.
Pergulatan semacam itu wajar dialami remaja yang beranjak menuju usia dewasa, dan merupakan bagian dari proses untuk memasuki tatanan sosial masyarakat. Hal semacam itu barangkali dialami oleh siapapun. 

Sepaham dengan Ismail, Boby Prabowo yang juga terlibat dalam pameran tersebut mengutarakan pendapat senada bahwa karyanya merupakan refleksi personalnya. Darah muda, kurang lebih begitu, identik dengan emosi yang tinggi. Hal itulah mendasari karyanya yang berjudul “Nirmaya Kalaaji.”
Sosok ekspresif dalam lukisan tersebut digambarkan berkepala api dengan latar yang seluruhnya merah. Kedua tangannya menggenggam sebongkah bola berwarna biru yang merupakan metafora dari dunia. Menurut Boby, refleksi personalnya mewakili persoalan global. “Dimana-mana orang penuh dengan emosi,” katanya.
Mereka boleh dibilang masih sangat belia, tapi kreatifitasnya juga boleh dibilang sangat luar biasa. Beberapa refleksi yang mereka comot dari kehidupan pribadinya, coba ditawarkan pada publik yang lebih luas. Selain untuk menilai karya mereka, juga mengajak untuk kembali merenungkan perubahan-perubahan apa saja yang telah kita alami.
Sebagaimana tajuk pameran ini, “Respice, Adspice, Prospice,” mereka mengajak kita untuk melihat kemarin, hari ini, dan juga esok. Bisa jadi, perubahan telah terjadi sepertihalnya ulat yang menjadi kepompong, dan kelak (mungkin) kupu-kupu. (*)

*) catatan ini pernah dipublikasikan di Jogjareview.net

Selasa, 02 Juni 2015

Latepost: Mempertanyakan Ulang Makna Kemerdekaan



oleh Dwi S. Wibowo
karya Laksmi Shitaresmi
Sepasang anjing beda ras, berwarna merah, saling tatap dalam pandangan yang emosional. Keduanya berdiri bersebelahan, dengan buritan yang saling mengait satu sama lain. Itulah gambaran salah satu karya Laksmi Shitaresmi dalam pameran “Ibu Pertiwi” yang digelar oleh Jogja Contemporary dan Bentara Budaya Yogyakarta dalam rangka menyambut ulang tahun kemerdekaan Indonesia, sekaligus mempertanyakan ulang maknanya.
Agustus identik dengan perayaan kemerdekaan, sekalipun peristiwa tersebut telah berlalu 69 tahun silam. Bapak pendiri bangsa ini, Bung Karno, memang pernah berujar “Jas Merah,” jangan sekali-kali melupakan sejarah! Akan tetapi, sudah benarkah cara-cara yang dilakukan saat ini dalam menyikapi makna kemerdekaan? Atau jangan-jangan, yang dilakukan bangsa ini hanyalah sebuah euforia semu yang nirmakna.
Seni pada hakikatnya dekat dengan politik, bisa jadi keduanya berjalan beriringan ataupun berdiri berdampingan sebagaimana yang tergambar dalam karya Laksmi di atas. Sekalipun adanya tarik menarik antara keduanya, maupun pergesekan, justru menciptakan harmoni di antara keduanya. Hal tersebut tentu nampak dalam sikap seniman yang selalu merasa nasionalis dengan menghadirkan karya-karya yang mengkritisi kondisi sosial yang terjadi di Indonesia.
Pasca tergulingnya pemerintahan orde lama, keterlibatan seniman secara langsung dalam politik praktis memang dikikis habis oleh rezim Soeharto. Seniman ditempatkan di luar pemerintahan, dicap sebagai golongan pembangkang karena bersikap kritis, dan dianggap mengganggu stabilitas kekuasaan pemerintah. Sehingga ruang gerak dan ekspresinya perlu dibatasi dan diawasi secara ketat.
Barulah usai reformasi, seniman memperoleh kembali kebebasan ekspresinya, meskipun tanpa posisi dalam politik. Oleh karenanya, peran seniman saat ini hanyalah pada konteks estetika dan pengkaryaan. Melalui kedua hal itulah, seniman dapat melampirkan sikap dan gagasannya dalam menyikapi situasi sosial yang terjadi di Indonesia. Mengkritisi kelemahan-kelemahan pemerintahan, atau mendukung program-program pemerintah yang dianggap pro-rakyat. Sikap semacam itulah yang kini perlu digalang bersama di kalangan seniman, sehingga mampu menciptakan sebuah gerakan kesenian yang masif.
karya anggar prasetyo
 Sebuah tindakan besar selalu dimulai dari langkah kecil, dan itulah yang nampaknya sedang berusaha ditampilkan melalui pameran “Ibu Pertiwi” yang digawangi oleh lima seniman. Laksmi Shitaresmi, Anggar Prasetyo, Deddy Paw, Made Wiradana, dan Wahyu Santosa. Mereka mencoba mempertanyakan ulang makna kemerdekaan yang setiap bulan Agustus tiba, selalu diperingati dengan gegap gempita.
Laksmi Shitaresmi, dengan simbol-simbol binatangnya mencoba menampilkan metafora yang barangkali terkesan sarkasme, namun tetaplah kritis. Selain kedua anjing merahnya, Laksmi juga menampilkan sebuah patung anak babi yang tengah tertidur pulas di atas bantal. Di Indonesia, hal itu tentulah ganjil karena babi bukanlah termasuk peliharaan rumah tangga, melainkan ternak yang tempatnya di antara lumpur. Akan tetapi, karya tersebut seolah menjadi sebuah analogi dari bangsa Indonesia yang selama ini tertidur, sebagaimana anak babi di atas bantal.
Anggar Prasetyo dengan gaya andalannya, drapery texture, menghadirkan sebuah refleksi dari peralihan kepemimpinan di Indonesia yang berlangsung secara demokratis. Tidak jauh berbeda dengan yang coba diutarakan oleh Made Wiradana melalui lukisannya yang menampilkan sekian banyak kuda, yang tentu dapat dimaknai sebagai gambaran kolektifitas bangsa Indonesia yang terdiri dari berbagai macam suku bangsa dan golongan. Bahwasanya bangsa yang kaya adalah bangsa yang mampu menghargai perbedaan dalam dirinya.
Deddy Paw menghadirkan sosok Buddha dalam balutan objek khas miliknya yaitu apel metalik. Karya-karyanya menyiratkan sebuah pesan mendalam menyangkut spiritualitas yang diemban oleh pemimpin baru bangsa ini, bahwa sanya pemimpin haruslah teruji secara spiritual. Sedangkan Wahyu Santosa menghadirkan figur-figur yang identik dengan nilai-nilai tradisi; sebuah patung setinggi tiga meter yang menggambarkan seorang lelaki penabuh kendang. Ia mengajak kita untuk senantiasa menggali khasanah dan budaya lokal sebagai basis dari kemajuan bangsa ini, bahwasanya nilai budaya adalah identitas mendasar yang menjadi kepribadian bangsa Indonesia.  
Seperti diungkapkan di atas, bahwasanya pameran ini hanyalah sebuah langkah kecil dari sebuah perjalanan.  Dan apa yang disampaikan oleh para seniman tersebut hanyalah perwakilan dari sekian banyak gagasan lain yang menunggu untuk ditumpahkan di atas kanvas. Kita tentu menunggu kembalinya peran kesenian dalam pembangunan bangsa dan negara Indonesia kedepan. 
 *)catatan ini pernah dipublikasikan di Jogjareview.net

Latepost: Bung Karno Kembali Ke Jogja



oleh Dwi S. Wibowo
"bung karno, setelah pengasingan" karya Edhi Sunarso
Bung Karno kembali ke Jogja! Dengan mengenakan setelan jas khasnya, juga peci hitam Marhaenis kebanggaannya, ia berdiri dengan menenteng sebuah mantel di lengan kirinya. Kedua matanya memandang lurus, badannya tegap penuh keyakinan dan harapan, seperti itulah kira-kira gambaran Bung Karno saat kembali dari pengasingan di kota Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur.
Dengan tinggi mencapai empat setengah meter, gambaran tersebut kembali dihadirkan oleh Edhi Sunarso dalam bentuk patung yang menggunakan bahan dasar perunggu. Patung tersebut diberi tajuk “Soekarno dari Pengasingan Pulau Ende”. Patung yang tingginya melebihi dua kali orang dewasa tersebut merupakan salah satu karya yang dipamerkan dalam gelaran Artjog 20S14 yang mengusung tema “Legacies of Power”.
Patung yang dibuat tahun 1998 tersebut merupakan sebuah bentuk penghormatan yang diberikan sang maestro patung Indonesia tersebut kepada sosok Bung Karno, sang proklamator kemerdekaan Indonesia. Pematung kelahiran tahun 1932 tersebut mungkin tidak melihat langsung saat Bung Karno kembali dari pengasingannya. Tapi sebagai seorang seniman handal ia tentu mampu menangkap patriotisme Bung Karno kala itu, meskipun hanya lewat imajinasi.
Tahun 1934, saat usianya menginjak angka 33 tahun, Bung Karno diasingkan oleh pemerintah Hindia Belanda ke Ende. Sebagai seorang tahanan politik, selama di Ende ia tidak memiliki kebebasan penuh. Seluruh aktifitasnya di kota tersebut dibatasi, terutama yang menyangkut hal politik. Oleh karenanya, Bung karno lebih banyak mengalihkan kegiatannya ke bidang seni seperti menulis naskah drama dan mementaskannya bersama masyarakat setempat.
Lebih dari empat tahun, sang putra fajar diasingkan di kota tersebut. Suasana yang tenang dan jauh dari kontak fisik dengan pemerintah kolonial Hindia Belanda saat itu, ternyata mampu memberinya inspirasi untuk menulis landasan dasar negara, Pancasila. Konon, bung karno merenungkannya di bawah pohon sukun, pada suatu hari sebelum ia terserang malaria.
Sebelum menempuh studi di ASRI, Edhi Sunarso merupakan seorang pejuang kemerdekaan. Baginya, sosok Bung Karno mewakili sifat nasionalisme dan patriotisme terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dan momen Bung Karno kembali dari pengasingannya di kota Ende merupakan cercah harapan bagi bangsa Indonesia yang kala itu masih berada di bawah penjajahan pemerintah kolonial Hindia Belanda. Dalam pandangannya, lahirnya Pancasila merupakan langkah awal menuju kemerdekaan.
Kedekatan dengan Bung Karno
Eddhi Sunarso
Sosok Bung Karno bukanlah orang yang asing bagi Edhi Sunarso, begitu juga sebaliknya. Perjumpaan awal mereka ialah pada saat Edhi Sunarso memperoleh penghargaan sebagai pemenang kedua lomba patung tingkat internasional yang diselenggarakan di London. Mengetahui prestasi tersebut, Bung Karno segera memanggil Edhi Sunarso ke Jakarta untuk ditugaskan membangun patung Selamat Datang menggunakan perunggu.
Awalnya, ia merasa ragu karena tak memiliki pengalaman menggunakan perunggu sebagai media pembuatan patung. Teknik pengecorannyapun tak ia pahami saat itu. Tapi semangat yang diberikan oleh Bung Karno segera melecutnya, “Kamu pejuang kan? Bertempur melawan Belanda saja kamu berani, masa membuat patung tidak?” Itulah titik awal Edhi Sunarso menjadi pematung kepercayaan Presiden Pertama RI tersebut.
Akan tetapi, hubungan yang terjalin baik tersebut kemudian berakhir dengan sebuah kisah duka. Saat ditugaskan untuk membangun Monumen Dirgantara, Bung Karno hanya sempat melihatnya dua kali, sebelum akhirnya proyek itu tertunda akibat G30S tahun 1965. Monumen tersebut dibangun untuk mengenang jasa para pahlawan dirgantara, “Kalau bangsa Amerika dan bangsa Soviet bisa bangga pada industri pesawatnya, bangsa Indonesia bisa bangga pada keberaniannya!” itulah kutipan percakapan Bung Karno dengan Edhi Sunarso saat mengutarakan niatnya membangun Monumen Dirgantara.
Monumen tersebut merupakan pesanan terakhir Bung Karno yang tidak pernah dilihat dan diresmikan olehnya. Pada tanggal 21 Juni 1970, saat Edhi Sunarso tengah berada di monumen tersebut, muncul iring-iringan mobil jenazah. Salah seorang pekerja memberitahunya bahwa mobil jenazah tersebut membawa Bung Karno, Edhi Sunarso seketika lemas kala itu.
Sosok Bung Karno tentu memiliki makna penting bagi sang maestro patung tersebut. Pengalamannya bekerja sama dengan sang presiden tentu menjadi catatan sejarah bangsa yang berharga, dan juga memorabilia personal baginya. Seluruhnya kini tertuang dalam patung setinggi empat setengah meter tersebut. 

*)catatan ini pernah dipublikasikan di Jogjareview.net