Tampilkan postingan dengan label art bali. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label art bali. Tampilkan semua postingan

Rabu, 10 Januari 2018

5 PERISTIWA SENI DI BALI YANG LAYAK DIINGAT SEPANJANG TAHUN 2017



oleh Dwi S. Wibowo

Setiap kali tiba di masa pergantian tahun seperti ini, selalu terbersit hasrat untuk kembali mereka ulang ingatan mengenai perisitiwa-peristiwa seni yang telah berlangsung dalam kurun waktu setahun kebelakang. Adakah di antaranya yang menarik untuk dikenang, bahkan berharap dapat diulang kembali di tahun berikutnya. Bali sebagai daerah yang memiliki intensitas perhelatan seni yang relatif tinggi, hampir setiap bulan bisa tercatat lebih dari dua perhelatan seni yang diselenggarakan oleh ruang-ruang seni maupun dari hasil inisiasi para senimannya. Namun tidak semuanya memiliki cakupan yang cukup luas untuk dianggap sebagai peristiwa seni yang layak diingat, baik dari segi tematik yang ditawarkan, metode kesenian yang digunakan, maupun kecakapan penyelenggara dalam mengelola event hingga tuntas.

Kriteria yang muncul dalam menentukan peristiwa seni yang masuk dalam tulisan ini bukanlah merujuk pada yang terbaik dari seluruh peristiwa yang berlangsung, melainkan sekedar menyebut beberapa contoh peristiwa seni yang berhasil menarik perhatian publik secara luas, sekaligus memberikan tawaran tematik dan metode yang relatif berbeda dari sekedar memajang karya di ruang galeri layaknya pameran biasa. Tentu saja, harapannya penyelenggaraan event seni di Bali kedepannya akan semakin baik, dengan berpijak pada apa yang telah ada sebelumnya. Berikut ini adalah lima peristiwa seni yang berlangsung sepanjang tahun 2017 di Bali:

1.     Bare Journal vol. 3 – Devising Theatre (Cata Odata)

Sebagai salah satu ruang seni yang berada di Bali, Cata Odata memiliki sejumlah program regular. Selain pameran seni, Cata Odata yang mengundang sejumlah seniman dari berbagai kota untuk melakukan residensi di ruang miliknya. Bare Journal, merupakan platform residensi yang mereka gagas dengan menekankan pada aspek dokumentasi proses seniman selama masa residensi yang direkam melalui sebuah jurnal. Bare Journal tahun ini merupakan yang ketiga kalinya, biasanya mereka mengundang dua seniman dan seorang penulis untuk saling berkolaborasi selama sebulan masa residensi (April-Mei 2017)

Yang berbeda dari Bare Journal tahun ini adalah seniman yang diundang tidak hanya berlatar seni rupa, seperti sebelumnya. Melainkan penari, perupa, dan penulis naskah teater aitu Gianti Giady (Jakarta), Kanoko Takaya (Kyoto), dan Santiasa Putu Putra (Denpasar). Mereka dipertemukan dan berkolaborasi untuk menciptakan sebuah pertujukan teater dengan konsep devised theatre, yaitu sebuah pertunjukan yang tidak berawal dari sebuah naskah yang telah ada, melainkan tercipta melalui proses interaksi antar seniman yang terlibat selama masa residensi. Mereka saling memberi stimulan untuk memantik pola pertunjukkan yang akan mereka hasilkan nantinya. Tentu saja, semua itu direkam melalui sebuah jurnal yang dibawa oleh mereka masing-masing.


Selain pertunjukkan, Bare Journal juga ditutup dengan sebuah pameran yang menghadirkan jurnal dokumentasi seniman selama masa residensi. Publik dipersilakan untuk membaca setiap detail dari proses yang dicatat oleh masing-masing seniman, sehingga mereka dapat mengetahui bagaimana sebuah karya dihasilkan, berikut pergulatan yang dialami oleh seniman dalam berproses. Selama ini, publik hanya menikmati karya sebagai sesuatu yang purna, tanpa mengetahui bagaimana proses penciptaannya. termasuk bagaimana ide-ide kara tersebut dihasilkan, melalui jurnal ini, mereka bisa mengetahui apa yang selama ini menjadi dapur seniman.

2.    Visit Bali Year – Pameran Tunggal Slinat (Uma Seminyak)

Selama ini, publik seni di Bali lebih mengenal Slinat sebagai seorang street artist yang biasa mengerjakan mural di ruang publik kota Denpasar. Beberapa karyanya bahkan menjadi sangat ikonik dengan menampilkan figur perempuan Bali tempo dulu yang mengenakan masker anti polutan di wajahnya, bahkan karyanya seperti menjadi landmark di sejumlah lokasi.  Visit Bali Year, merupakan pameran tunggalnya yang pertama di dalam sebuah ruang galeri konvensional. Pameran ini berlangsung dari tanggal 1-17 Juli 2017 di Uma Seminyak. Meski secara tematik barangkali kita tetap bisa melihat pesamaan karyanya di ruang publik dan yang ada dalam pameran ini, namun secara intensitas tentu berbeda. Di ruang publik, Slinat bisa membuat mural dengan ukuran gigantis, sedangkan di dalam galeri ada keterbatasan ruang yang membuatnya harus berkarya dalam ukuran kecil.

Visit Bali Year merupakan kritik yang dilancarkan oleh Slinat atas pola industrialisasi pariwisata di Bali, termasuk kebijakan-kebijakan pemerintah dalam mendorong peningkatan promosi pariwisata ini.  Figur ikoniknya, perempuan Bali bertelanjang dada yang mengenakan masker antipolutan adalah bentuk kritiknya. Citra tentang pulau Bali nyaris tidak pernah dilepaskan dari kesan eksotik perempuan-perempuan bertelanjang dada di era kolonial, namun di tengah era industrialisasi masihkah eksotisme itu layak untuk ditawarkan. Itulah mengapa Slinat menghadirkan ironi dengan menutup wajah perempuan tersebut dengan masker anti polutan. Bahwa apa yang dibayangkan tentang eksotisme alam dan manusia di Bali tidak lagi seperti dulu kala, kini telah mengalami banyak perubahan yang kontras.

3.    Tropica – Bali Street Art Festival (Canggu)


Tropica merupakan salah satu event seni tingkat internasional di Bali yang berhasil mempertemukan para seniman jalanan (street artist) dari Indonesia dan dunia. Sejak tanggal 26-30 Juli 2017, mereka merespon ruang publik yang berada di sekitar kawasan Canggu, sebuah kawasan wisata yang relatif baru di sisi barat pantai kuta. Dengan segmentasi wisatawan mancanegara yang mayoritas dari kalangan muda, masuknya street art di kawasan ini seperti menjadi ruh bagi spirit urban di wilayah ini.


Tahun ini merupakan penyelenggaraan Tropica Festival yang kedua kalinya, yang pertama berlangsung tahun lalu dan boleh dibilang berhasil menarik perhatian publik street art secara luas. Lantaran minimnya perhelatan seni yang dapat mempertemukan seniman-seniman jalanan ini secara masif. Sekaligus membuka peluang untuk mengetahui sejumlah seniman yang selama ini menyembunyikan identitasnya dengan pseudonim pada karyanya.


Sebanyak 45 seniman dari Indonesia dan beberapa negara lain turut memeriahkan perhelatan Tropica Festival tahun ini. Beberapa di antaranya The Popo, Drawmama, Peanut Dog, Needsone, Seth Globepainter, Ricky Lee Gordon, dll. Penyelenggaraan festival ini menjadi menarik lantaran sangat minimnya ruang gerak bagi seniman jalanan di Bali, beberapa lokasi mungkin bisa mudah mereka akses untuk membuat mural, tapi tidak menyeluruh di semua kawasan. Beruntung Tropica digelar di kawasan Canggu, ruang-ruang yang relatif baru dan spirit urban dari wisatawan muda di sana menjadi lokasi penyemaian yang cocok bagi seni urban tersebut.

4.      Den Pasar – Pameran bersama (Cushcush Gallery)

Menelusuri sejarah sebuah kota, barangkali paling mudah melalui asal-usul namanya. Seperti kota Denpasar, nama kota ini berasa dari dua kata dalam bahasa Bali yaitu Den dan Pasar. Den dalam bahasa Bali merupakan kependekan bunyi dari kata dajan yang berarti ‘di utara’, sedangkan pasar tetap sebagaimana arti yang kita pahami. Sehingga jika diterjemahkan, kota Denpasar dapat berarti sebagai kota yang berdiri di utara pasar. Berangkat dari pemikiran itulah, Cushcush gallery mengajak sejumlah insan kreatif yang tinggal di kota Denpasar untuk kembali menelusuri pasar dan membangun ulang dialog tentang keberadaannya dalam pertumbuhan kota hari ini melalui sebuah pameran berjudul “Den Pasar” yang dihelat sejak 26 Mei hingga 26 Agustus 2017.

Secara keseluruhan, ada 17 insan kreatif yang berhasil lolos kurasi. Seleksi dilakukan melalui sistem aplikasi terbuka yang dimulai sejak Februari lalu. Tidak semua dari mereka adalah seniman yang bergelut dengan media visual, beberapa di antaranya adalah desainer fashion, arsitek, bahkan penari. Mereka ialah Adhika Anissa, Dian Suri, Myra Juliarti, Farhan Adityasmara, Mirah Rahmawati, Jaya Putra, Andre Yoga, Suhartawan, Wayan Martino, Lugu Gumilar, Nadjma Achmad, Sidhi Visathya, Syaifudin Vivick, Tri Haryoko Adi, Qomaruzzaman Alamry, Reevo Saulus dan Yoga Wahyudi.


Sebelum berkarya, mereka diajak serta untuk turun ke dua pasar yang menjadi landmark kota Denpasar, yaitu pasar Badung dan pasar Kumbasari. Dua pasar tradisional yang saling berdampingan dan hanya disekat oleh sungai Badung tersebut. Di sana, mereka dipersilakan untuk melakukan observasi guna membekali dirinya dalam mencipta karya visual.  Dari sejumlah karya yang kemudian tercipta, beberapa di antaranya memang memotret secara langsung suasana pasar yang nampak di hadapan mereka hari ini, beberapa lainnya mencoba menemukan ikonografi yang endemik dan khas, sementara yang lainnya juga merentangkan jarak ke aspek kesejarahan bagaimana pasar tersebut melakukan metamorfosis selama bertahun-tahun.

5.      Rumah Kaca Nagasepaha dan Batu Belah – Pameran Seni Lukis Kaca (Bentara Budaya Bali)


Selain seni lukis wayang tradisional Kamasan yang termasyur, ternyata Bali juga memiliki seni lukis wayang tradisional pada medium kaca. Selama ini, mungkin tidak terkenal luas sebagaimana seni lukis wayang kamasan. Seni lukis kaca ini berkembang di sebuah desa di Bali Utara bernama Nagasepaha. Usia seni lukis kaca di Nagasepaha memang belum selama seni lukis wayang kamasan ataupun seni lukis kaca dari daerah Cirebon yang lebih dikenal luas. Berkembangnya seni lukis kaca di daerah inipun, melalui sejumlah keterangan seperti bermula dari sebuah kebetulan. Dipelopori oleh Jro Dalang Diah, seorang dalang yang mendapat pesanan untuk membuat lukisan dengan medium kaca. Padahal sebelumnya, Ia tidak pernah belajar melukis di medium tersebut. Dengan modal nekat, akhirnya sebuah lukisan kaca yang dibawa oleh pemesan itu sebagai contoh itupun dikerik untuk mengetahui bagaimana lukisan kaca itu dibuat. Dari sanalah kemudian seni lukis kaca di Nagasepaha mulai berkembang dan diwariskan secara turun temurun.


Melalui sebuah pameran yang digelar pada 26 september hingga 6 oktober 2017 lalu di Bentara Budaya Bali, sejumlah karya dari para seniman ang bernaung di bawah Rumah Kaca Nagasepaha dipamerkan, termasuk sejumlah sketsa dari Jro Dalang Diah. Selain menghadirkan karya seni lukis kaca Nagasepaha, pameran ini juga menghadirkan karya-karya seni lukis kaca yang lebih modern dari komunitas Batu Belah Art Space yang dimotori oleh perupa Wayan Sujana Suklu.  Dalam pameran ini, kita dapat melihat perbandingan bagimana seni lukis kaca Nagasepaha tumbuh dan berkembang melalui perluasan tematik, tidak hanya terbatas pada pakem-pakem pewayangan yang ada, sekaligus melihatnya bersanding dengan karya-karya dari Batu Belah Art Space yang lebih modern.  

Senin, 28 Desember 2015

MENAKAR PERISTIWA KEKERASAN DI BALI



Oleh Dwi S. Wibowo

Selain citra surgawi yang melekat pada pulau dewata, ternyata Bali juga menyimpan sejumlah luka yang berakar pada berbagai peristiwa kekerasan. Peristiwa-peristiwa tersebut tidak hanya terjadi pada kurun waktu belakangan ini saja, melainkan telah tercatat dalam sejarah bahwa bali memiliki riwayat panjang mengenai sejarah kekerasan. Sebagai pulau kecil yang terbagi menjadi banyak wilayah kerajaan, sejak era Bali kuno memiliki potensi konflik yang tinggi akibat pergesekan kepentingan antar penguasa.

Seiring berjalannya waktu, ternyata peristiwa-peristiwa kekerasan tersebut seolah terus terjadi secara periodik. Hampir tiap dekade, peristiwa kekerasan itu berulang dengan motif dan pelaku yang berbeda. Untuk merefleksikan hal tersebut, Tony Raka gallery menginisiasi sebuah pameran besar dan mengajak para perupa Bali untuk ikut serta merenungkan sejarah kekerasan yang berlangsung sekian lama di pulau ini. Dengan mengusung tajuk “Bali Art Intervention #1: Violent Bali”, pameran yang digadang-gadang bakal digelar berkelanjutan ini seperti memberi interupsi sosial lewat medium seni.

Di tengah proses reduksi citra bali sebagai pulau surga untuk kepentingan promosi wisata oleh pemerintah daerah, pameran ini justru hadir sebagai antitesis dengan menawarkan sisi lain, untuk tidak menyebutnya sisi gelap, pulau dewata. Arif B. Prasetyo yang didapuk sebagai kurator dalam pameran ini, sedianya ingin mengundang sebanyak mungkin perupa. Total ada 85 perupa yang diundang, namun hingga batas akhir pengumpulan karya, hanya sekitar 60 perupa yang sanggup menggarap tema ini. Menurutnya, di Bali, sulit memang untuk mencari perupa yang suntuk menggarap persoalan-persoalan sosial sebagai fokus berkaryanya. Kebanyakan dari para perupa ini, justru lebih gemar mengejar aspek estetis dan artistik pencapaian karyanya.


Hal itu juga yang melandasinya menyodorkan tema-tema sosial dalam gelaran pameran di Bali ke depannya. Mengapa demikian? Bali nampaknya sedang dalam posisi yang riskan, di satu sisi seolah dikeluarkan dari peta seni rupa kontemporer Indonesia, baik secara pasar maupun wacana. Namun di sisi lain, posisi Bali sebagai wilayah yang diakses secara internasional memiliki potensi membangun jaringan dengan medan seni rupa di luar negeri, terutama di kawasan Asia timur.

Arah pergerakan seni rupa di kawasan Asia sudah semakin menunjukkan keberpihakkannya pada persoalan-persoalan sosial dan politik. Indikasi tersebut tentu tidak bisa dilepaskan dari aspek politik lokal di negara-negara tersebut, maupun geopolitik global yang mulai berpusat di kawasan Tiongkok, Jepang dan Korea. Pasca krisis ekonomi di Eropa, yang juga berimbas pada krisis kebudayaan, kekuatan pondasi seni Eropa yang dibangun sejak era Renaisans seolah runtuh dan tak berarti apa-apa di hadapan ringkihnya sistem perekonomian mereka saat ini. Dengan kekuatan modal yang dimiliki oleh negara-negara di kawasan Asia timur, terutama Tiongkok, untuk membangun pusat seni dunia sepertinya bukan hal mustahil.

Di samping itu, negara-negara Asia juga memiliki goncangannya sendiri di tingkat lokal dan regional. Sebagian negara Asia tersebut mulai menjalankan sistem pemerintahan yang represif terhadap rakyatnya, dengan tujuan untuk menjaga kestabilan politik. Hal ini menimbulkan dampak yang luas, termasuk dalam dunia seni rupanya. Tekanan terhadap rakyat dan seniman justru menimbulkan protes halus lewat karya seni. Sehingga tak mengherankan jika terjadi gelombang pergerakan seni rupa Asia yang menyoroti persoalan sosial politik di negara-negara tersebut.


Meski lepas dari tekanan orde baru, bukan berarti Indonesia terbebas dari berbagai persoalan politik yang melanda negeri ini. perebutan kekuasaan masih menjadi polemik yang tak berkesudahan, bahkan seolah mengesampingkan persoalan kemiskinan yang lebih nyata terlihat. Bali melihat ini sebagai sebuah potensi pergerakan yang besar, tentu dengan langkah-langkah bertahap dalam sekian tahun kedepan. Dan pijakan awal itu telah kita lihat saat ini lewat pameran Violent Bali. Meski tidak secara spesifik merujuk pada satu peristiwa kekerasan yang terjadi di Bali, keenam puluh perupa yang terlibat menunjukkan penjelajahan dalam cakupan yang lebih luas. Melihat kekerasan di Bali tidak hanya pada kekerasan fisik, melainkan juga psikologis yang dilakukan secara terselubung. Saya mencatat ada beberapa karya yang menunjukkan gejala tersebut, ada yang dikerjakan perseorangan, juga ada yg kolektif.

Salah satu karya yang paling menarik perhatian adalah milik bayak yang menghadirkan instalasi dengan mengokupasi salah satu sudut ruang galeri. Bayak menyajikan instalasi mekanis dengan sebuah lukisan, dan sebuah televisi yang menampilkan film legendaris “Pemebrontakan G30S PKI”. Bayak menarik akar kekerasan tidak hanya di Bali saja, melainkan dalam cakupan Indonesia pada masa orde baru. Melalui film garapan Arifin C. Noer itulah rezim Soeharto melakukan propaganda mengenai peristiwa kekerasan tahun 1965. Anak-anak sekolah dasar dijejali visual-visual kekerasan lewat adegan silet-menyilet jenderal dan pembunuhan sadis. Pasca film yang dibuat tahun 80-an tersebut, pandangan sejarah total berubah. Yang ada dalam benak masyarakat hari ini adalah kekejian PKI membunuh tujuh jenderal, bukan sebaliknya bahwa militer mendorong rakyat untuk saling bunuh sehari pasca gestapu. Film itu adalah klaim sepihak yang dilakukan rezim Soeharto untuk menyelamatkan mukanya di hadapan rakyat Indonesia, terutama di hadapan generasi yang lahir pasca peristiwa tersebut.

Dalam karya lukis, “Noda Merah 1965” milik Alit Suaja patut direnungkan juga saat ini. Potret seorang kakek yang mengenakan label PKI di lengan kirinya adalah sebuah realitas hari ini. Para penyintas yang selamat dari pembantaian tahun 65 masih dapat kita temui hari ini, mereka adalah saksi sekaligus korban. Luka yang mereka alami mungkin saja tidak hanya secara fisik saat peristiwa itu berlangsung, melainkan bertahun-tahun sesudahnya terus dihakimi oleh publik secara sosial. Selain tu, karya kolektif dari Upadana, Valasara, Budi Tomfreak, dan Ruth juga memberi tampilan menarik dengan memadukan video art dengan storry reading. Dalam karya yang diberi tajuk “Pseudo Estetic” itu perupa kolektif ini menyoroti pencitraan terhadap Bali yang dilakukan terus tanpa melihat persoalan-persoalan yang secara nyata berlangsung dalam masyarakat. Alam dan sosial menjadi lanskap yang berbeda, keindahan alam Bali ternyata menyimpan sejumlah persoalan sosial yang menunggu dituntaskan. Ibarat api dalam sekam, jika dibiarkan maka berpotensi membesar.

Dari 60 perupa yang turut menyumbang karya dalam pameran ini, setidaknya dapat terlihat berbagai sudut pandang menakar kekerasan yang terjadi di Bali dari masa silam hingga masa kini. Dari sana mungkin kita bisa menyusun sebuah diorama dalam benak, bagaimana peristiwa-peristiwa itu selama ini senyap  di balik citra surgawi yang melekat di pulau kecil ini.

Tulisan ini merupakan review pameran Bali Art Intervention: Violent in Bali, pernah dimuat di Bali Post Minggu edisi desember 2015


Sabtu, 28 November 2015

AKTIVASI RUANG PUBLIK SEBAGAI AREAL SENI TERBUKA

Isrol Triono tengah membuat mural disaksikan warga setempat

Oleh Dwi S. Wibowo

Memberi kesempatan pada masyarakat luas untuk mengenal dan menikmati karya seni ternyata tidak semudah membalik telapak tangan. Keberjarakan antara masyarakat umum dengan berbagai institusi kesenian seperti galeri, museum seni, institusi pendidikan, dan juga kalangan seniman cukup memberi andil besar dalam mengasingkan hubungan keduanya. Bahkan masyarakat di perkotaan sekalipun merasa awam terhadap seni rupa modern apalagi kontemporer, terutama kelas menengah ke bawahnya masih merasa canggung dan bertanya-tanya apa itu seni.

Persoalan semacam itu bahkan terjadi di kota-kota besar di Indonesia, terutama kota-kota yang selama ini berada di luar lingkaran utama arus seni rupa kontemporer seperti Jogja, Bandung, atau Jakarta. Salah satu kota yang masih mengalami kegagapan untuk mendekatkan masyarakatnya dengan karya seni adalah Denpasar, sesuatu yang mungkin dianggap ironis mengingat bahwa citra pulau dewata yang selama ini lekat dengan kesenian. Sayangnya, Denpasar ataupun Bali secara umum hanya lekat dengan kesenian tradisi yang masih dipertahankan sebagai salah satu komoditas wisata. Termasuk dalam benak masyarakatnya yang memahami seni sebatas pada khasanah tradisi yang sehari-hari dilihatnya.


Posisi kota Denpasar sebagai ibu kota propinsi, ternyata tidak juga menjadikannya sebagai pusat dari perkembangan seni di Bali. Justru kawasan Ubud, Sanur, dan Seminyak yang notabene sebagai destinasi wisata malah menjadi patokan berkembangnya sejumlah galeri seni yang sempat berpengaruh di Bali. Sementara Denpasar hanya bertumbuh sebagai pusat pemerintahan yang cenderung birokratik, hal tersebut juga secara tidak langsung memberi dampak signifikan terhadap pertumbuhan sosio-kultural masyarakat yang tinggal di dalamnya. Masyarakat di kota Denpasar adalah perpaduan antara urban dan tradisional yang cenderung menampilkan tarik menarik antara kedua sifat tersebut. Di satu sisi, sedang bertumbuh menjadi kota yang urban secara kultural, di sisi lain eksistensi banjar yang tradisional aristokratik menahan laju perkembangan itu.

Hadirnya karya seni di kota ini sebagai media wacana belum berjalan sepenuhnya, masyarakatnya (terutama kelas menengah ke bawah) masih berjarak dengan institusi-institusi seni. Sebagian besar dari mereka masih beranggapan bahwa karya seni semata-mata hanya sebagai dekorasi penghias dinding, bahkan soal harga karya seni yang bisa melambung selangit mungkin membuat mereka lebih berkerut dahi. Sementara itu, hadirnya karya seni jalanan (mural, grafiti, atau poster) yang bersifat politis di ruang publik masih belum diterima secara utuh. Stigma tentang karya street art yang dianggap mengotori wajah kota dan dikategorikan sebagai bentuk vandalisme masih begitu melekat di benak sebagian besar masyarakat kota ini. Mungkin berbeda dengan fenomena street art di Jogja yang diterima secara terbuka oleh berbagai lapisan masyarakat, bahkan sudah menjadi bagian dari langkah kota tersebut dalam mendekatkan seni dengan masyarakatnya.
Scetch Fredoon Expo karya kolaboratif yang dikuratori oleh Kianoush Ramezani (Iran)

Di Denpasar sendiri, hadirnya karya-karya street art berupa poster dan mural sudah cukup banyak menghiasi dinding-dinding di sejumlah kawasan. Pemanfaatan dinding-dinding bangunan ataupun tembok di kawasan pertokoan dinilai efektif oleh para street artist lokal untuk menyampaikan pesan kepada masyarakat melalui gambar-gambarnya yang berukuran gigantis tersebut. Sekaligus untuk meneguhkan eksistensinya dalam perebutan ruang dengan baliho-baliho reklame yang dilegalkan pemerintah kota, meskipun keberadaannya juga sama-sama mengambil posisi di ruang publik.

Pada 2 Oktober lalu, Micro Galleries sebuah organisasi jaringan seniman internasional yang berbasis di Australia bekerja sama dengan sejumlah seniman asal Indonesia menggelar sebuah program inisiasi di kota Denpasar untuk menghidupkan kembali ruang publik yang sudah terlupakan dan mengaktifkannya kembali sebagai galeri bagi berbagai karya seni secara terbuka. Area yang dipilih adalah di seputaran Pasar Badung karena dianggap sebagai lokasi yang memiliki nilai penting dalam denyut nafas masyarakat kota Denpasar. Ada tiga lokasi yang dipilih untuk menghadirkan karya sesuai dengan konteksnya yaitu di bantaran sungai antara Pasar Badung dan Pasar Kumbasari, areal Pasar Badung, dan di gang Ternate 3 yang berlokasi di sisi timur Pasar Badung.

Program ini bermula dari keterlibatan Christina Arum seorang fotografer yang menetap di Denpasar dalam penyelenggaraan program serupa di Nowra pada periode sebelumnya. Menurutnya, situasi kota Denpasar sebagaimana disebutkan sebelumnya dirasa sangat potensial untuk menyelenggarakan program tersebut. Bersama Bobby Arya Gana, Christina Arum menjadi kordinator lokal program ini di Denpasar. Setidaknya ada 42 seniman yang terlibat dalam penyelenggaraan kali ini yang terdiri dari 12 seniman Indonesia dan 30 seniman yang berasal dari berbagai negara seperti Australia, Amerika, Prancis, Finlandia, Iran, dan Hong kong. Tujuan dari program ini adalah untuk mendekatkan karya seni dengan berbagai lapisan masyarakat, oleh karena itulah pemilihan lokasi di pasar Badung dirasa tepat karena menjadi ruang yang mempertemukan masyarakat dari berbagai kelas. “Dengan memakai ruang publik (pasar Badung), semua orang ternyata bisa diajak menikmati karya seni, baik yang indah maupun yang sarat protes atas keadaan di sekitar kita,” menurut Aryo Dewa Bharata, salah satu seniman yang terlibat dalam program ini.

Meskipun respon yang diberikan oleh masyarakat tidak semuanya positif, terbukti dengan beberapa karya yang berada di areal pasar mengalami kerusakan, bahkan hilang. Termasuk sejumlah karya yang dipindahkan secara sepihak oleh petugas keamanan pasar. Sebagaimana diungkapkan oleh Bobby, “meski sudah mendapatkan ijin dari pengelola pasar, ternyata masih ada respon negatif dari petugas keamanan dan juga masyarakat.” Menurutnya, hal semacam itu juga menjadi bagian dari resiko karya seni di ruang publik. Untungnya, karya-karya di dua lokasi lainnya tidak mengalami nasib serupa. Penempatan karya seni di ruang publik tentu memiliki sistematika yang berbeda dengan karya-karya seni yang terpajang di dinding galeri. Kehadiran karya seni di ruang publik serta merta akan menimbulkan pertanyaan bagi siapapun mengenai konteks keberadaannya, bahkan mungkin akan sampai pada penilaian oleh sebagian pihak mengenai tepat atau tidaknya karya tersebut berada di lokasi itu. Pertimbangan-pertimbangan semacam itu tentu harus menjadi landasan dalam sebuah proyek seni di ruang publik.

Seperti dalam program ini, pemilihan lokasi di bantaran sungai antara  Pasar Badung dan Pasar Kumbasari bertujuan untuk menyampaikan pesan terkait persoalan sungai sebagai bagian dari ekologi kota. Persoalan-persoalan yang seringkali muncul di sekitar sungai yang melintasi kawasan perkotaan adalah lahirnya kawasan kumuh dan juga alih fungsi sungai sebagai tempat pembuangan sampah. Mungkin itu persoalan klise yang mungkin dapat dilihat di berbagai kota, karenanya beberapa seniman merasa bahwa persoalan tersebut sudah dalam kategori darurat. Diperlukan komunikasi untuk mengembalikan kesadaran masyarakat tentang fungsi sungai sebagai bagian dari ekologi kota, persoalan itu disoroti oleh sejumlah seniman yang secara kolaboratif menciptakan karya di bantaran sungai, mereka antara lain Billie Parsons yang berkolaborasi dengan Made bayak, dan MT Walker yang berkolaborasi dengan Jonas Sestakresna.

Sebagaimana tujuan program ini untuk menghidupkan kembali ruang yang mulai dilupakan orang, ada baiknya kita melihat ke sebuah lorong sempit di gang Ternate 3 yang terletak pada sisi timur Pasar Badung. Sehari-hari, gang ini adalah kawasan sepi yang hanya dilalui warga setempat dengan berjalan kaki sambil menuntun sepeda motor. Dinding di kedua sisinya sebagian rusak dan berlumut akibat cuaca. Pemandangan itulah yang direspon oleh sebagian besar seniman yang terlibat dalam program ini, gang dengan panjang sekitar 300 meter itu menjadi penuh sesak oleh poster-poster dan mural yang berjejer sangat padat. Menjadi sangat menarik untuk melihat berbagai karya seni dengan latar dinding yang kusam dan berlumut. Maka tidak mengherankan jika setelahnya gang itu mendadak ramai didatangi banyak orang yang semula memperoleh informasi tentang program Micro Galleries ini dari media sosial.
Salahkan siapa karya Lilu (Indonesia)

Interaksi para pendatang, seniman, dan warga setempat ternyata memberi pengalaman yang unik bagi ketiganya. Warga setempat justru antusias melihat lingkungannya menjadi kawasan seni, setidaknya itu memberi warna baru pada dinding kusam yang setiap hari mereka lihat, meskipun banyak juga karya-karya bernada kritik sosial yang ditempel disana. Program ini sekaligus menghidupkan ruang secara nyata, yang membuat mereka dapat bertemu dengan orang-orang baru dengan pengalaman dan pengetahuan yang menurutnya berbeda. Selanjutnya, karya-karya itu akan tetap dibiarkan berada disana hingga cuaca, waktu, ataupun tangan-tangan jahil orang yang lewat mengelupasnya.

tulisan ini pernah dimuat di majalah Sarasvati edisi November 2015

Selasa, 13 Oktober 2015

PERSILANGAN SENI RUPA DAN DESAIN

Citra Sasmita, The Red Hangman, 2015, Esther Metal Sheet, 55 x 28 x 7

oleh Dwi S. Wibowo
Ibarat sepasang rel kereta, seni rupa dan desain adalah dua bilah yang membentang berdampingan, meskipun sangat jarang kita lihat keduanya saling bersinggungan. Para perupa begitu kerap menyuntuki medium-medium ganjil dan kepiawaian teknis guna mencipta karya yang punya nilai artistik tinggi sekaligus adiluhung, sedangkan para desainer lebih banyak merancang benda-benda fungsional yang begitu lekat dengan keseharian. Ya, seni rupa memang seperti sebuah pemanggungan yang berjarak dengan kehidupan, sedangkan desain lebih menyerupai realitas kehidupan itu sendiri. Oleh karenanya, sebuah pameran yang dihelat oleh Sudakara Art Space sejak 27 Agustus lalu, mencoba menautkan dua dunia sekandung itu dalam kerangka tajuk “Portable Sculpture Objects Fungtional Arts”.
Sejumlah perupa yang terbiasa menggeluti seni rupa murni (lukis, patung, dan instalasi) ditantang untuk memperluas kecakapan berkaryanya dengan menerapkan pada benda-benda guna (fungsional). Sebagaimana terlihat dalam pameran ini, beberapa perupa yang terlibat antara lain Aan Juniartha, Art of Whatever (AOW), Atmi Kristiadewi, Budi Agung Kuswara, Budi ‘Boleng’ Santoso, Citra Sasmita, Dewa gede Jodi Saputra, IGK Adi Dewantara, Made Aswino Aji, Made Supena, Putu Suarjana, Made Muliana Bayak, Nyoman Suarnata, Putu Edy Asmara, dan Putu Suardana.
Budi Boleng, Table Lamp 1, 2015, Mixed Media, 41 x ++ 22
Alih-alih nampak selayaknya pameran seni rupa yang sarat gagasan, pameran ini seolah lebih ingin menampilkan kecakapan para perupa dalam mengolah karakter estetiknya ke dalam benda guna sehari-hari. Meskipun masing-masing dari mereka masih juga menyelipkan idiom-idiom khasnya dalam berkarya. Dalam perbincangan dengan Army (kordinator pameran ini) beberapa minggu sebelum pembukaan pameran, ia menuturkan bahwa pameran ini berupaya mengangkat konsep art bazaar yang bisa lebih mendekatkan karya para perupa tersebut dengan pemirsa, yang secara aktif dapat sekaligus menjadi buyers. Apalagi dengan posisi Sudakara Art Space yang merupakan bagian dari hotel Sudamala, membuatnya menjadi sangat strategis. Pameran yang akan digelar hingga 5 Oktober mendatang ini juga diniatkan menjadi alternatif untuk mengatasi kejenuhan aktifitas seni rupa di Bali yang melulu konvensional menampilkan lukisan dan patung.
Tak sekedar mengawinsilangkan antara seni rupa dan desain, ternyata pameran ini juga mensyaratkan para perupa untuk menciptakan karya yang portable (mudah dibawa) sebagaimana terlampir dalam judul pameran ini. Oleh karena itulah, kebanyakan perupa cenderung menggarap karya-karya berukuran mini seperti terlihat dalam beberapa karya Made Muliana Bayak. Ia membuat patung-patung dari kolase benda temuan sehari-hari seperti mouse komputer, kaleng minuman, potongan pensil, dan pisau dapur. Salah satunya diberi judul “Osama Bin Scorpion The Cyber Terror”, karya tahun 2015 itu tersusun dari mouse komputer yang dikolase dengan kawat dan roda bekas mainan. 
Aswino Aji, Display Installation View
Tak hanya Bayak yang piawai merangkai benda-benda temuan semacam itu, Budi ‘Boleng’ Santoso juga menggunakan pola yang sama. ia banyak mengumpulkan perkakas otomotif dan juga botol-botol bekas wine untuk dirakit menjadi sebuah karya. Dalam pameran ini, Budi menampilkan beberapa lampu meja yang dibuatnya dari bahan perkakas seperti pompa sepeda dan piringan rem motor yang dikombinasikan dengan potongan botol dan bohlam di dalamnya, sehingga bias cahaya yang dihasilkannya dari balik kaca botol menjadi sangat puitis.
Beberapa seniman yang lain mencoba mengelaborasikan konsep berkarya yang biasa mereka lakoni dalam bidang dua dimensi ke dalam benda guna sehari-hari. Di titik ini, kita diajak untuk melihat bahwa medium para perupa ternyata tidak hanya terbatas pada bidang datar seperti kanvas atau kertas, seperti terlihat dalam karya-karya yang diusung oleh kelompok perupa yang menamakan dirinya Art of Whatever. Latar belakang mereka sebagai perupa yang menekuni street art membuatnya lebih leluasa dalam menyikapi medium dalam berkarya, maka jadilah karya-karya mereka dalam medium seperti jaket, payung, dan sepatu. Tanpa mau meninggalkan karakteristik khas dan juga selipan gagasan, mereka mengombinasikan teknik lukis, grafis, dan digital printing dalam sandangan tersebut. Keuntungannya ialah, karya sekaligus pesan yang terlampir di dalamnya akan terbawa mengikuti kemanapun langkah orang yang menggunakan produknya.

Budi Agung Kuswara, After Murakami, 2015, Ceramics Teapot and cups (2 pcs)

Hal serupa terlihat juga dalam karya-karya Made Aswino Aji yang juga menerapkan pola berkarya dua dimensi ke dalam benda-benda guna seperti jam dinding ataupun mangkok dan nampan kayu. Dengan teknik drawing menggunakan pensil warnanya yang khas, ia juga tetap mengusung ikon-ikon gambarnya yang selama ini banyak muncul dalam karya-karya lukisnya. Selain itu, yang juga menarik adalah cangkir-cangkir keramik karya Budi Agung Kuswara yang disusun berjajar di atas lightbox. Beberapa seri karya keramik itu tampil dengan sangat rapi, salah satunya yang diberinya judul “After Murakami”, menampilkan motif-motif senyum bunga matahari serupa karya seniman ternama Jepang Takashi Murakami yang diolah dengan teknik pembuatan keramik yang sangat baik. Karya instalasi berbahan plat besi karya Citra Sasmita juga cukup menarik perhatian, menampilkan sepasang sosok malaikat yang dipajang berdampingan dengan warna yang sepenuhnya merah menyala. Karya yang diberi judul “The Red Hangman” itu berfungsi sebagai capstok yang diposisikan tepat pada posisi phalus sang malaikat, membuatnya menjadi sangat parodikal, sekaligus berani.
Pameran sejenis, bukan kali ini saja digelar di Bali, sebelumnya juga pernah digelar pameran yang menampilkan pertautan antara seni rupa dan desain yaitu “Art Expose” pada tahun 2014 di Maha Art Gallery yang diikuti oleh sejumlah perupa termasuk Edy Asmara dan Atmi Kristiadewi yang juga terlibat dalam pameran kali ini. Tanpa menurunkan nilai estetik dari karya-karya seni yang biasa mereka ciptakan, dari pameran tersebut setidaknya terlihat bahwa seni rupa ternyata bisa begitu dekat dengan desain. Meskipun selama ini sering muncul anggapan sinis yang menyebutnya sebagai seni rendahan, namun ternyata di belahan bumi lain, yaitu di Chicago pameran serupa yang mengusung tajuk SOFA (Sculpture Object Fungtional Art) juga digelar dan diikuti oleh banyak galeri ternama. Barangkali, seni memang semestinya melekat pada fungsi sehari-hari.

*)tulisan ini pernah dipublikasikan di majalah sarasvati edisi oktober 2015

Rabu, 15 Juli 2015

RITUS SUNYI DALAM RIUH MANUSIA URBAN


I Wayan Suja_Trafic Light_2015_oil on canvas_120x150 cm

Oleh Dwi S. Wibowo
Arus pariwisata yang demikian deras menghujam Bali, mau tidak mau menimbulkan dampak sosial yang tidak sedikit. Persinggungan antara wisatawan asing yang datang membawa modernitas dengan penduduk setempat yang masih berbasis tradisi telah melahirkan suatu lanskap multikultur. Secara kasat mata, dampak tersebut nampak dari berkembangnya beberapa daerah pedesaan menjadi kosmopolitan, lengkap dengan gemerlap lampu reklame yang saling berebut pandangan. Hal tersebut sekaligus berimbas pada tumbuhnya mentalitas urban pada masyarakat Bali yang semula memegang teguh nilai-nilai spiritual.
Tegangan antara hasrat menjadi manusia kosmopolit dan tarikan nilai-nilai spiritual mustahil untuk dihindari, sehingga dari sana lahirlah masyarakat spiritual yang khusyuk namun semu. Fenomena tersebut menggelitik sejumlah perupa yang berasal dari Bali untuk meresponnya dengan menghelat pameran yang bertajuk “Spiritualitas Urban”. Tidak hanya memandang fenomena urban yang berlangsung di Bali, mereka juga mengajak serta para perupa dari Bandung untuk urun rembug dengan menghadirkan fenomena serupa yang terjadi di kotanya.
Pameran yang dihelat di Sudakara Art Space Sanur hingga 10 Agustus tersebut melibatkan sejumlah perupa Bali, mereka antara lain Wayan Suja, Wayan Upadana, Made Muliana “Bayak”, Made Wiguna Valasara, Jaya Putra dan Ngakan Ardana. Sedangkan perupa Bandung yang turut andil dalam pameran ini ialah Willy Himawan, Dadan Setiawan, Guntur Timur, Muhammad Regie Aquara, dan Imam Sapari. Masing-masing dari mereka menawarkan berbagai persoalan yang terkait dengan proses asimilasi antara yang tradisional dan yang modern, baik berupa kontradiksi visual yang seringkali mengulik pandangan, hingga renungan yang lebih mendalam terhadap perubahan kultur yang tengah mereka saksikan.
Lahirnya masyarakat urban tidak dipungkiri sebagai imbas langsung dari berkembangnya sistem ekonomi kapital yang terjadi di berbagai wilayah. Seperti diungkap Wayan Seriyoga Parta, penulis dalam pameran ini yang mengetengahkan isu bahwa meluasnya jangkauan modal multinasional hingga ke sektor pedesaan, telah menumbuhkembangkan desa-desa metropolitan. Di Bali, desa-desa metropolitan tersebut membentang dari Kuta, Sanur, hingga ke Ubud. sedangkan di Bandung, fenomena serupa dapat dijumpai di kawasan Dago dan Lembang. Perubahan struktur sosial tersebut sekaligus menunjukkan perubahan perilaku masyarakat yang semula kolektif menjadi masyarakat baru yang justru mengarah pada sifat-sifat individualistis.
Pola perilaku masyarakat tersebut menjadi kriteria utama untuk menandai suatu masyarakat yang telah berkembang menjadi urban. Individualitas terbentuk melalui kesadaran akan potensi diri dan tuntutan profesionalitas yang terikat pada kepentingan tertentu, yang berujung pada ironi dalam masyarakat kita. Di Bali, dapat disaksikan pola perubahan perilaku masyarakat yang dipacu oleh derasnya arus pariwisata. Kedatangan wisatawan asing menjadi magnet ekonomi sekaligus magnet gaya hidup yang menarik masyarakat lokal pada pola hidup pragmatis yang memuja individualitas dan budaya instant. Fenomena tersebut dipotret oleh Wayan Suja melalui dua karyanya yaitu “Traffic Light” dan “Because We Need Something That Keep Fresh”. Kedua lukisan tersebut menampilkan ironi sekaligus paradoks yang terdapat pada perilaku masyarakat Bali dalam laku spiritualnya.
Lukisan “Traffic Light” menampilkan sebuah pemandangan dari balik kaca mobil yang menampilkan kemacetan lalu lintas perkotaan, uniknya di atas dashboard mobil Wayan Suja menempatkan sebuah simbol spiritualitas berupa sesaji canang sari dengan beberapa butir permen di atasnya. Seolah menjadi ironi, bahwa di tengah ruwetnya kemacetan lalu lintas masih tersisa sedikit kesunyian spiritualitas manusia. Sedangkan pada lukisan “Because We Need Something That Keep Fresh,” masih dengan idiom canang sari, ia mencoba menawarkan sebuah potret perilaku masyarakat yang berubah pragmatis. Ironi tersebut dihadirkan melalui gambaran lemari pendingin yang sebenarnya berfungsi untuk mengawetkan bahan makanan, berubah menjadi alat pengawet bagi elemen organik yang terdapat pada canang sari seperti bunga dan dedaunan. Menurut Suja, perubahan perilaku tersebut diakibatkan oleh meningkatnya mobilitas masyarakat dalam berbagai usaha mengejar kemakmuran material sehingga menggeser esensi dari laku spiritualis mereka.
MUHAMMAD REGGIE AQUARA_Summertime_2015_Acrylic on canvas & Butterfly Taxidermy_63 cm X 71 cm

Ironi serupa juga dihadirkan oleh Made Muliana ‘Bayak’ dengan fokus pada meningkatnya perilaku konsumerisme pada masyarakat Bali. Arus pariwisata sekaligus menjadi pintu bagi masuknya berbagai produk industri yang dengan segera menjadi bagian dari kebutuhan masyarakat lokal. Efek paling kentara dari perilaku konsumerisme tersebut adalah tersisanya sampah berupa plastik kemasan produk industri yang berserakan dimana-mana. Fenomena tersebut menggugah Bayak untuk membangun satir dengan melukis di permukaan sampah-sampah plastik tersebut, menghadirkan figur-figur yang lekat dengan tradisi spiritual Bali. Dalam karya “Bali Legacy,” figur penari disandingkan dengan latar yang tersusun dari bentangan sampah-sampah plastik kemasan. Seni, termasuk juga tarian merupakan suatu laku spiritual yang dihayati oleh masyarakat Bali sebagai bagian dari persembahan yang indah kepada pencipta. Namun pada prakteknya, pariwisata lagi-lagi mengubahnya menjadi sekedar atraksi yang menarik.
Spiritualitas urban tidak hanya terbatas pada tegangan antara modernitas dan tradisional dalam konteks sosial masyarakatnya semata, melainkan dapat ditarik juga pada persoalan dialog dengan alam. Sebagai representasi dari semesta, alam menghadirkan sebuah dimensi mistis yang membawa manusia pada aspek spiritualitasnya sebagaimana tergambar dalam karya-karya Dadan Setiawan dan Muhammad Regie Aquara. Dua karya Dadan Setiawan dengan seri “Lost in IG Series” melukiskan sebuah pemandangan alam dengan suasana yang kelam. Dalam kedua karya tersebut, Dadan juga mengkombinasikan pemandangan tersebut dengan kotak-kotak piksel warna di bagian tengah lukisan. Piksel-piksel warna tersebut menjadi dimensi tersendiri yang menyedot perhatian siapapun yang melihatnya, dan melontarkannya balik pada pemahaman bahwa alam senantiasa menyimpan misteri. Namun hadirnya kotak-kotak piksel warna tersebut sekaligus menjadi kontradiksi visual antara yang natural dan industrial, mengingat piksel warna adalah produk dari kemajuan teknologi di bidang fotografi pada mulanya.
dadan setiawan_#toughfull #openminds #realize #isallinyourhead (lost in IG series)_2015_oil on canvas_90x90cm

Potret tegangan antara yang tradisi dan modernitas nampaknya tidak begitu muncul dalam karya-karya perupa yang berasal dari Bandung. Karya-karya mereka justru lebih menunjukkan kecenderungan sudut pandang yang mengarah pada tegangan antara alam dan modernitas. Perbedaan karakteristik karya antara perupa yang berasal dari Bali dan Bandung tersebut pada akhirnya memberi pemahaman bahwa kedua kota tersebut memang memiliki masalah yang juga berbeda. Dimensi urbanitas yang terbentuk pada masyarakat di kedua kota tersebut berasal dari latar belakang yang berbeda sehingga menghasilkan lanskap yang berbeda pula. Bali yang identik dengan spiritualitas Hindu yang melekat dalam tradisinya berbenturan dengan modernitas yang dibawa oleh arus pariwisata, dimana tradisi mengalami pergeseran menjadi semata identitas kultural tanpa esensi. Sedangkan Bandung yang memiliki dimensi spiritualitas dari religi (muslim) maupun penghayat keyakinan (sunda wiwitan) mengalami benturan dengan modernitas yang lahir dari arus pembangunan kota yang begitu cepat tanpa memperhatikan aspek ekologi sebagai lingkungan hidup.
Sebuah karya yang lebih esensial dihadirkan oleh Wayan Upadana melalui video instalasi berjudul “Memoscape.” Dengan menggabungkan video dokumenter dengan gunungan resin untuk membangun dimensi, Upadana menawarkan renungan tentang esensi spiritualitas yang berasal dari alam dengan metafora gunung dan lautan. Melalui video dokumenter yang ditayangkan lewat televisi, ia ingin mengkritisi peran media tersebut dalam membentuk mentalitas urban masyarakat melalui berbagai tayangan. “Dalam karya ini saya ingin audience merasakan kembali kehadiran alam di media televisi, untuk memberikan kedekatan emosional dan bagaimana ‘ingatan’ memberikan stimulan pada perasaan orang yang melihatnya,” ungkapnya.
Pameran “Spiritualitas Urban” ini menawarkan sebuah renungan tentang kondidi transisi yang terjadi dalam masyarakat kita melalui potret dua kota, yaitu Bali dan Bandung dimana kedua masyarakat di kota tersebut mengalami tegangan antara menghamba pada urbanitas yang gemerlap atau menahan diri pada ruang-ruang sunyi spiritualitas. Kebudayaan dan kehidupan suatu masyarakat selalu bergulir dan secara terus menerus melakukan penyesuaian bentuk dengan zamannya. Ironi, paradoks, ataupun kontradiksi visual dalam spiritualitas masyarakat urban yang kita lihat hari ini adalah sebuah keniscayaan yang terus mengada.
 *) Tulisan ini pernah dipublikasikan di majalah Sarasvati edisi Juli 2015