Selasa, 02 Juni 2015

Latepost: Mempertanyakan Ulang Makna Kemerdekaan



oleh Dwi S. Wibowo
karya Laksmi Shitaresmi
Sepasang anjing beda ras, berwarna merah, saling tatap dalam pandangan yang emosional. Keduanya berdiri bersebelahan, dengan buritan yang saling mengait satu sama lain. Itulah gambaran salah satu karya Laksmi Shitaresmi dalam pameran “Ibu Pertiwi” yang digelar oleh Jogja Contemporary dan Bentara Budaya Yogyakarta dalam rangka menyambut ulang tahun kemerdekaan Indonesia, sekaligus mempertanyakan ulang maknanya.
Agustus identik dengan perayaan kemerdekaan, sekalipun peristiwa tersebut telah berlalu 69 tahun silam. Bapak pendiri bangsa ini, Bung Karno, memang pernah berujar “Jas Merah,” jangan sekali-kali melupakan sejarah! Akan tetapi, sudah benarkah cara-cara yang dilakukan saat ini dalam menyikapi makna kemerdekaan? Atau jangan-jangan, yang dilakukan bangsa ini hanyalah sebuah euforia semu yang nirmakna.
Seni pada hakikatnya dekat dengan politik, bisa jadi keduanya berjalan beriringan ataupun berdiri berdampingan sebagaimana yang tergambar dalam karya Laksmi di atas. Sekalipun adanya tarik menarik antara keduanya, maupun pergesekan, justru menciptakan harmoni di antara keduanya. Hal tersebut tentu nampak dalam sikap seniman yang selalu merasa nasionalis dengan menghadirkan karya-karya yang mengkritisi kondisi sosial yang terjadi di Indonesia.
Pasca tergulingnya pemerintahan orde lama, keterlibatan seniman secara langsung dalam politik praktis memang dikikis habis oleh rezim Soeharto. Seniman ditempatkan di luar pemerintahan, dicap sebagai golongan pembangkang karena bersikap kritis, dan dianggap mengganggu stabilitas kekuasaan pemerintah. Sehingga ruang gerak dan ekspresinya perlu dibatasi dan diawasi secara ketat.
Barulah usai reformasi, seniman memperoleh kembali kebebasan ekspresinya, meskipun tanpa posisi dalam politik. Oleh karenanya, peran seniman saat ini hanyalah pada konteks estetika dan pengkaryaan. Melalui kedua hal itulah, seniman dapat melampirkan sikap dan gagasannya dalam menyikapi situasi sosial yang terjadi di Indonesia. Mengkritisi kelemahan-kelemahan pemerintahan, atau mendukung program-program pemerintah yang dianggap pro-rakyat. Sikap semacam itulah yang kini perlu digalang bersama di kalangan seniman, sehingga mampu menciptakan sebuah gerakan kesenian yang masif.
karya anggar prasetyo
 Sebuah tindakan besar selalu dimulai dari langkah kecil, dan itulah yang nampaknya sedang berusaha ditampilkan melalui pameran “Ibu Pertiwi” yang digawangi oleh lima seniman. Laksmi Shitaresmi, Anggar Prasetyo, Deddy Paw, Made Wiradana, dan Wahyu Santosa. Mereka mencoba mempertanyakan ulang makna kemerdekaan yang setiap bulan Agustus tiba, selalu diperingati dengan gegap gempita.
Laksmi Shitaresmi, dengan simbol-simbol binatangnya mencoba menampilkan metafora yang barangkali terkesan sarkasme, namun tetaplah kritis. Selain kedua anjing merahnya, Laksmi juga menampilkan sebuah patung anak babi yang tengah tertidur pulas di atas bantal. Di Indonesia, hal itu tentulah ganjil karena babi bukanlah termasuk peliharaan rumah tangga, melainkan ternak yang tempatnya di antara lumpur. Akan tetapi, karya tersebut seolah menjadi sebuah analogi dari bangsa Indonesia yang selama ini tertidur, sebagaimana anak babi di atas bantal.
Anggar Prasetyo dengan gaya andalannya, drapery texture, menghadirkan sebuah refleksi dari peralihan kepemimpinan di Indonesia yang berlangsung secara demokratis. Tidak jauh berbeda dengan yang coba diutarakan oleh Made Wiradana melalui lukisannya yang menampilkan sekian banyak kuda, yang tentu dapat dimaknai sebagai gambaran kolektifitas bangsa Indonesia yang terdiri dari berbagai macam suku bangsa dan golongan. Bahwasanya bangsa yang kaya adalah bangsa yang mampu menghargai perbedaan dalam dirinya.
Deddy Paw menghadirkan sosok Buddha dalam balutan objek khas miliknya yaitu apel metalik. Karya-karyanya menyiratkan sebuah pesan mendalam menyangkut spiritualitas yang diemban oleh pemimpin baru bangsa ini, bahwa sanya pemimpin haruslah teruji secara spiritual. Sedangkan Wahyu Santosa menghadirkan figur-figur yang identik dengan nilai-nilai tradisi; sebuah patung setinggi tiga meter yang menggambarkan seorang lelaki penabuh kendang. Ia mengajak kita untuk senantiasa menggali khasanah dan budaya lokal sebagai basis dari kemajuan bangsa ini, bahwasanya nilai budaya adalah identitas mendasar yang menjadi kepribadian bangsa Indonesia.  
Seperti diungkapkan di atas, bahwasanya pameran ini hanyalah sebuah langkah kecil dari sebuah perjalanan.  Dan apa yang disampaikan oleh para seniman tersebut hanyalah perwakilan dari sekian banyak gagasan lain yang menunggu untuk ditumpahkan di atas kanvas. Kita tentu menunggu kembalinya peran kesenian dalam pembangunan bangsa dan negara Indonesia kedepan. 
 *)catatan ini pernah dipublikasikan di Jogjareview.net

Latepost: Bung Karno Kembali Ke Jogja



oleh Dwi S. Wibowo
"bung karno, setelah pengasingan" karya Edhi Sunarso
Bung Karno kembali ke Jogja! Dengan mengenakan setelan jas khasnya, juga peci hitam Marhaenis kebanggaannya, ia berdiri dengan menenteng sebuah mantel di lengan kirinya. Kedua matanya memandang lurus, badannya tegap penuh keyakinan dan harapan, seperti itulah kira-kira gambaran Bung Karno saat kembali dari pengasingan di kota Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur.
Dengan tinggi mencapai empat setengah meter, gambaran tersebut kembali dihadirkan oleh Edhi Sunarso dalam bentuk patung yang menggunakan bahan dasar perunggu. Patung tersebut diberi tajuk “Soekarno dari Pengasingan Pulau Ende”. Patung yang tingginya melebihi dua kali orang dewasa tersebut merupakan salah satu karya yang dipamerkan dalam gelaran Artjog 20S14 yang mengusung tema “Legacies of Power”.
Patung yang dibuat tahun 1998 tersebut merupakan sebuah bentuk penghormatan yang diberikan sang maestro patung Indonesia tersebut kepada sosok Bung Karno, sang proklamator kemerdekaan Indonesia. Pematung kelahiran tahun 1932 tersebut mungkin tidak melihat langsung saat Bung Karno kembali dari pengasingannya. Tapi sebagai seorang seniman handal ia tentu mampu menangkap patriotisme Bung Karno kala itu, meskipun hanya lewat imajinasi.
Tahun 1934, saat usianya menginjak angka 33 tahun, Bung Karno diasingkan oleh pemerintah Hindia Belanda ke Ende. Sebagai seorang tahanan politik, selama di Ende ia tidak memiliki kebebasan penuh. Seluruh aktifitasnya di kota tersebut dibatasi, terutama yang menyangkut hal politik. Oleh karenanya, Bung karno lebih banyak mengalihkan kegiatannya ke bidang seni seperti menulis naskah drama dan mementaskannya bersama masyarakat setempat.
Lebih dari empat tahun, sang putra fajar diasingkan di kota tersebut. Suasana yang tenang dan jauh dari kontak fisik dengan pemerintah kolonial Hindia Belanda saat itu, ternyata mampu memberinya inspirasi untuk menulis landasan dasar negara, Pancasila. Konon, bung karno merenungkannya di bawah pohon sukun, pada suatu hari sebelum ia terserang malaria.
Sebelum menempuh studi di ASRI, Edhi Sunarso merupakan seorang pejuang kemerdekaan. Baginya, sosok Bung Karno mewakili sifat nasionalisme dan patriotisme terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dan momen Bung Karno kembali dari pengasingannya di kota Ende merupakan cercah harapan bagi bangsa Indonesia yang kala itu masih berada di bawah penjajahan pemerintah kolonial Hindia Belanda. Dalam pandangannya, lahirnya Pancasila merupakan langkah awal menuju kemerdekaan.
Kedekatan dengan Bung Karno
Eddhi Sunarso
Sosok Bung Karno bukanlah orang yang asing bagi Edhi Sunarso, begitu juga sebaliknya. Perjumpaan awal mereka ialah pada saat Edhi Sunarso memperoleh penghargaan sebagai pemenang kedua lomba patung tingkat internasional yang diselenggarakan di London. Mengetahui prestasi tersebut, Bung Karno segera memanggil Edhi Sunarso ke Jakarta untuk ditugaskan membangun patung Selamat Datang menggunakan perunggu.
Awalnya, ia merasa ragu karena tak memiliki pengalaman menggunakan perunggu sebagai media pembuatan patung. Teknik pengecorannyapun tak ia pahami saat itu. Tapi semangat yang diberikan oleh Bung Karno segera melecutnya, “Kamu pejuang kan? Bertempur melawan Belanda saja kamu berani, masa membuat patung tidak?” Itulah titik awal Edhi Sunarso menjadi pematung kepercayaan Presiden Pertama RI tersebut.
Akan tetapi, hubungan yang terjalin baik tersebut kemudian berakhir dengan sebuah kisah duka. Saat ditugaskan untuk membangun Monumen Dirgantara, Bung Karno hanya sempat melihatnya dua kali, sebelum akhirnya proyek itu tertunda akibat G30S tahun 1965. Monumen tersebut dibangun untuk mengenang jasa para pahlawan dirgantara, “Kalau bangsa Amerika dan bangsa Soviet bisa bangga pada industri pesawatnya, bangsa Indonesia bisa bangga pada keberaniannya!” itulah kutipan percakapan Bung Karno dengan Edhi Sunarso saat mengutarakan niatnya membangun Monumen Dirgantara.
Monumen tersebut merupakan pesanan terakhir Bung Karno yang tidak pernah dilihat dan diresmikan olehnya. Pada tanggal 21 Juni 1970, saat Edhi Sunarso tengah berada di monumen tersebut, muncul iring-iringan mobil jenazah. Salah seorang pekerja memberitahunya bahwa mobil jenazah tersebut membawa Bung Karno, Edhi Sunarso seketika lemas kala itu.
Sosok Bung Karno tentu memiliki makna penting bagi sang maestro patung tersebut. Pengalamannya bekerja sama dengan sang presiden tentu menjadi catatan sejarah bangsa yang berharga, dan juga memorabilia personal baginya. Seluruhnya kini tertuang dalam patung setinggi empat setengah meter tersebut. 

*)catatan ini pernah dipublikasikan di Jogjareview.net

Latepost: "Legacies of Power" Di Tahun Politik



oleh Dwi S. Wibowo
"kabinet goni" karya samsul arifin, commision artist artjog 2014

Puluhan boneka yang terbuat dari karung goni dibariskan dengan sangat rapi, dalam levelling yang bertingkat, mereka menampilkan ekspresi-ekspresi yang unik. Rangkaian instalasi tersebut merupakan karya Samsul Arifin yang diberi tajuk “Kabinet Goni”, karya tersebut akan menyambut para pengunjung Artjog saat memasuki halaman Taman Budaya Yogyakarta selama gelaran pameran seni rupa tersebut berlangsung.
Sejak pertama kali dihelat tahun 2008 silam, gelaran Artjog yang dulunya memakai nama Jogja Art Fair memang telah menjadi magnet tersendiri bagi berbagai kalangan masyarakat pecinta seni di Yogyakarta. Selama ini, Artjog juga mampu mendekatkan masyarakat awam terhadap seni rupa. Setiap kali Artjog digelar, animo masyarakat untuk menghadiri acara ini begitu melimpah. Halaman Taman Budaya Yogyakarta bahkan selalu penuh sesak saat acara pembukaan berlangsung.
Penyelenggara selalu menampilkan karya-karya yang bombastis sekaligus gigantis di pintu masuk ruang pamer utama. Biasanya karya-karya tersebut dikerjakan oleh para commision artist yang memang dipesan langsung oleh penyelenggara untuk menyulap wajah Taman Budaya Yogyakarta sefenomenal mungkin. Seperti pada tahun 2011 misalnya, halaman depan Taman Budaya Yogyakarta dikeruk oleh Eddie Prabandono untuk menciptakan kepala bayi raksasa berbahan tanah liat. Atau pada tahun lalu, saat Artjog mengangkat tema Maritime Culture, sebuah komidi putar mekanis karya Iwan Effendi dan Papermoon diletakkan di depan pintu masuk utama.
Bagi masyarakat awam, Artjog memberikan ruang apresiasi seluas-luasnya, sekalipun para pengunjung sama sekali tidak memahami konteks seni rupa yang ada di hadapannya. Tidak sedikit dari para pengunjung yang sekedar numpang foto di samping karya, tanpa sama sekali berusaha membedah makna di baliknya. Hal tersebut membuktikan bahwa seni rupa, yang konon selama ini dianggap ekslusif, ternyata bisa juga tampil merakyat. Kolektor, kurator, seniman, pekerja kantoran, mahasiswa, dan pelajar bisa berada dalam satu ruang yang sama, sekalipun dengan atmosfer yang mungkin berbeda.
Tahun ini, Artjog mengusung narasi “Legacies of Power”. Tema ini sebagai lanjutan dari tema-tema terdahulu yang diusung dua tahun berturut, yaitu “Looking East” dan “Maritime Culture”. Ketiga tema ini memiliki satu benang merah yang berkaitan erat dengan sejarah terbentuknya bangsa indonesia yang mengacu pada masa kolonialisasi kerajaan Belanda di bumi nusantara.
ugo untoro bersama patung karya edhi sunarso
Tema “Looking East” yang diusung tahun 2012 diniatkan untuk mengulik orientasi bangsa eropa yang terpesona pada kekayaan alam yang dimiliki pulau-pulau di nusantara. Kemudian dilanjutkan dengan tema “Maritime Culture” di tahun berikutnya yang niscaya menggambarkan mengenai invasi awal bangsa eropa. Hal ini tergambar jelas misalnya dalam karya Titarubi yang berjudul “Golden Nutmeg”, sebuah biji pala yang dilapisi emas. Karya tersebut seolah menjadi salah satu yang paling representatif di antara karya-karya lain yang didominasi gambar ikan.
Tema “Legacies of Power” yang diusung tahun ini diniatkan untuk memberi gambaran mengenai pertarungan politik antara pemerintahan kolonial Belanda dan pribumi dalam memperjuangkan kedaulatannya. Mengingat bahwa gelaran Artjog selama beberapa tahun belakangan ini tengah berupaya menyusun sebuah narasi besar mengenai sejarah kebangsaan indonesia melalui rupa visual.
Penyelenggaraan Artjog tahun ini berbarengan dengan semaraknya pesta demokrasi yang tengah digelar bangsa indonesia, hal ini tentu sedikit banyak akan berpengaruh terhadap corak karya-karya yang akan tampil di dalamnya. Apalagi tema “Legacies of Power” cukup dekat dengan konteks perebutan kekuasaan dalam pemilu dan pilpres ini. Selama beberapa bulan belakangan ini, masyarakat telah disuguhi oleh iklan-iklan politik yang masuk ke setiap celah kehidupan. Dari media massa hingga baliho pinggir jalan penuh sesak oleh wajah-wajah caleg berikut slogan-slogan yang diusungnya masing-masing.
Karya-karya bertema politik sepertinya akan membanjiri seluruh ruang pamer Artjog tahun ini, terlihat dari karya commision artist yang terpajang paling depan. Mengusung gagasan “Kabinet Goni,” karya instalasi Samsul Arifin tersebut tentu segera mengingatkan pada pose para menteri di jajaran kabinet usai pelantikan. Mereka berbaris di tangga depan Istana Merdeka dengan setelan jas rapi untuk melakukan sesi fotografi. Dikemas dengan gaya karikatural, karya tersebut tentu memiliki muatan kritik sosial yang mendalam, dan sangat erat kaitannya dengan situasi politik yang terjadi di negeri ini.
*) catatan ini pernah dipublikasikan di Jogjareview.net


Wajah "Ngeri" Penjajahan Jepang



oleh Dwi S. Wibowo

"Praktek Penyiksaan oleh tentara jepang" karya lee man fong

Sebuah lukisan berangka tahun 1945 menggambarkan dua orang tentara Jepang yang tengah menggelonggong sesosok tubuh lelaki di hadapannya, lelaki tersebut adalah lelaki pribumi yang menjadi seorang tenaga paksa romusha. Terbaring tidak berdaya di atas tandu, sementara perutnya terus mengelembung akibat semakin banyak cairan yang dialirkan melalui selang besar yang disumpal ke mulutnya. Lukisan tersebut merupakan karya seorang pelukis asal Tiongkok yang menetap di indonesia, Lee Man Fong, yang kelak diangkat menjadi salah seorang pelukis istana oleh Soekarno.
Lukisan, pada masa itu, menjadi sebuah medium untuk merekam situasi sosial juga kekerasan yang terjadi pada masa pendudukan jepang. Sejarah mencatat, bahwa bukan hanya Lee Man Fong yang melukiskan kekejaman tentara jepang terhadap penduduk pribumi, pelukis lain yang juga menggambarkan hal serupa adalah Soedibio. Lukisan-lukisan surrealisnya yang dibuat pada rentang tahun 1943-1945 menampilkan kengerian yang dibangun melalui figur-figur yang tersiksa, terikat di jeruji besi, juga tergantung di sebuah tiang yang ujungnya membentuk telapak tangan dengan seekor gagak tengah mematuki luka yang menganga.
Karya-karya para pelukis pada masa itu memang secara gamblang memberi gambaran atas realitas pahit yang terjadi pada masa pendudukan Jepang di Indonesia. Penderitaan menjadi wajah yang dapat dilihat sehari-hari, kesengsaraan tidak lagi menjadi hal asing dalam kehidupan masyarakat jajahan. Iming-iming sebagai saudara tua yang dijanjikan oleh Kaisar jepang seolah hanya semu belaka, tidak lebih dari sekedar upaya untuk merangkul barisan muda Indonesia agar berpihak pada kubu Asia Timur Raya dalam perang dunia kedua.
Setelah serah terima jajahan oleh pemerintah kolonial Belanda kepada kekaisaran Jepang, praktis situasi sosial di indonesia mengalami perubahan yang sangat drastis. Jika pemerintahan kolonial Belanda lebih menekankan pada sistem politik dalam menekan kedaulatan rakyat Indonesia, maka pola yang diterapkan oleh Jepang cenderung bergaya militeristik yang cenderung menimbulkan konflik fisik dengan masyarakat. Sekalipun pemerintah Jepang juga melakukan pendekatan-pendekatan terhadap rakyat indonesia dengan berbagai cara; mendirikan Peta, Putera, bahkan menjanjikan kemerdekaan.
Perubahan pola pemerintahan yang terjadi di Indonesia tersebut, rupanya juga memberi dampak terhadap situasi seni rupa pada masa itu. Jika pada masa pemerintahan kolonial Belanda kerap dijumpai lukisan-lukisan yang menampilkan kemolekan alam Hindia, atau yang lebih dikenal sebagai mooi indie, maka gambaran kontras justru dihadirkan oleh pelukis-pelukis pada masa pendudukan Jepang. Meskipun tidak dipungkiri bahwa S. Sudjojono juga telah melakukan propaganda jiwa ketok sejak masa kolonial Belanda, yang juga menampilkan sisi kelam dari masyarakat indonesia sebagai bentuk perlawanan terhadap mooi indie.  
"kepadamu, rakyat jogja" karya soedibio
Lukisan-lukisan yang menampilkan sisi kelam rakyat Indonesia tersebut mulai marak pada awal tahun 1940-an dan mencapai puncaknya menjelang keruntuhan kuasa Jepang atas Indonesia. Banyak pelukis pada masa itu yang tergabung dalam Persagi dan juga SIM yang melakukan aksi turun ke bawah untuk melihat sekaligus melukiskan situasi sosial yang terjadi dalam masyarakat. Hendra Gunawan, Affandi, Emiria Soenassa, dan Wakidi pada masa itu cukup banyak melukiskan kemiskinan yang terjadi dalam masyarakat. Misalnya karya Affandi yang menggambarkan seorang pengemis buta yang dituntun anaknya, atau karya Emiria yang menggambarkan suasana kumuh sebuah pasar.
Karya-karya Lee Man Fong dan Soedibio juga perlu dicatat sebagai klimaks dari gambaran penderitaan yang terjadi pada masa itu, bahwa telah terjadi kekejaman yang sama sekali tidak manusiawi oleh tentara Jepang terhadap rakyat Indonesia. Kesadaran semacam itu tentu mutlak dimiliki oleh seorang seniman sebagai bentuk kepekaan sosial. Dan sudah menjadi tugas seniman merekamnya melalui karya, selain sebagai bentuk dokumentasi visual, juga bertujuan untuk membangkitkan kesadaran masyarakat terhadap situasi sosial dan ketidak adilan yang menimpa bangsanya.
Selain gambaran kemiskinan dan penderitaan, para pelukis yang turut serta turun berjuang pada masa itu juga menampilkan banyak tema-tema perang dalam lukisannya. Tidak sedikit dari para pelukis tersebut yang memang turun langsung memegang senjata, seperti Hendra Gunawan misalnya yang melukiskan “Pengantin Revolusi”. Dalam lukisan tersebut, Hendra juga melampirkan potret dirinya berseragam tentara tengah menyaksikan iring-iringan pengantin di atas sepeda. Patriotisme dan optimisme begitu nampak dalam karya-karya bertema perang semacam ini, seolah tiap figur di dalamnya ingin berkata, “Perjuangan belum berakhir, Bung!”

*)catatan ini pernah dipublikasikan di Jogjareview.net

Latepost: Antara Pensil dan Boneka Goni



oleh Dwi S. Wibowo

Berdasarkan rilis yang dikeluarkan oleh balai lelang Shoteby’s Hongkong pada Juli 2012 lalu, delapan dari sepuluh karya termahal seniman asal Indonesia dipenuhi oleh nama Samsul Arifin. Dua kolom nama yang tersisa diisi oleh Arin dwihartanto dan J. Ariaditya pramuhendra, masing-masing hanya dengan satu karya.
Sebagai seorang perupa muda, pencapaiannya tersebut boleh dibilang luar biasa, mengingat persaingan yang terjadi di dalam sebuah balai lelang besar seperti Sotheby’s tentu sangatlah ketat. Apalagi karyanya harus bersanding dengan karya-karya seniman kontemporer lainnya yang lebih senior seperti Nyoman Masriadi maupun Agus Suwage.
Nama Samsul Arifin sendiri bukanlah nama yang asing dalam peredaran karya seni rupa di Asia tenggara. Dilihat dari curiculum vitae miliknya, perupa lulusan Institut Seni Indonesia Yogyakarta tersebut telah berulang kali menggelar pameran di sejumlah negara, baik pameran tunggal maupun pameran bersama perupa dari mancanegara.
Karakteristik dari lukisannya yang mengusung aliran realisme minimalis, sebagaimana lukisan-lukisan kontemporer China, membuat karyanya cepat laku di pasaran. Bahkan selalu menjadi incaran para kolektor setiap kali karyanya dipajang di balai lelang internasional. Capaian harganyapun terbilang fantastis, karyanya yang berjudul “Main Coret Begitu Saja” terjual senilai 113,560 USD di Masterpiece Auctioneer Singapore.

Untuk menemukan karyanya dalam sebuah pameran bukanlah suatu pekerjaan yang sulit, potongan-potongan pensil dan boneka goni merupakan objek yang menjadi ciri khas dalam lukisannya. Objek-objek tersebut juga kerap ia gunakan dalam mencipta karya instalasi seperti pada karya “You Can See”, sebuah gaun yang tersusun dari ratusan boneka goni berukuran kecil.
Bagi perupa kelahiran tahun 1979 tersebut, kreatifitas seolah tanpa batas, termasuk dalam mengambil objek-objek yang sangat dekat dengan keseharian seperti pensil dan boneka goni tersebut. Objek-objek tersebut mungkin luput dari perhatian banyak perupa lain, padahal begitu dekat dengan kesehariannya. Dari situlah muncul gagasan Samsul untuk menggunakan pensil dan boneka goni sebagai medium untuk mengemas isu-isu sosial dalam karyanya.
Dengan gaya yang jenaka dan karikatural, Ia juga kerap melampirkan kalimat-kalimat bernada sinis yang menyentil mata. Lain dengan seniornya, Masriadi yang juga kerap melampirkan kata-kata spontan dengan coretan sembarang, Samsul agaknya lebih reflektif dalam menorehkan kalimat tersebut di atas karyanya. Seperti dalam karya “Menggulung Cerita Lama” misalnya, perpaduan teks dengan visualisasi objek pensil yang melengkung menjadi kian padu.
Secara teknik, kemampuan Samsul dalam mengekspresikan gagasan di atas kanvas terbilang di atas rata-rata. Kurator seni rupa Enin supriyanto menyebutkan bahwa Samsul telah menunjukkan bakat dan kemampuan yang luar biasa melalui karya-karyanya yang dianggap mampu bercerita tentang perjuangan masyarakat menghadapi situasi zaman yang cepat berubah. 

*) catatan ini pernah dipublikasikan di Jogjareview.net