Rabu, 26 Agustus 2015

TAMASYA KETAKUTAN DAN REPRODUKSI HANTU-HANTU




 oleh Dwi S. Wibowo
Rasa takut yang timbul dalam diri manusia merupakan hal yang wajar terjadi, ada berbagai hal yang bisa memicu bangkitnya rasa takut tersebut. Berhadapan dengan bahaya secara langsung bisa menyebabkan timbulnya rasa takut itu, alasan lainnya, bisa juga dikarenakan oleh gejala psikologis yang dialami manusia itu sendiri seperti fantasi tentang sesuatu hal yang berlebihan. Fantasi berlebihan inilah yang seringkali membuat manusia merasa takut terhadap sesuatu yang tidak nyata, seperti misalnya harus berjalan sendiri melewati kuburan saat malam jumat kliwon.
Apa yang salah dengan situasi tersebut? barangkali tidak ada, tapi fantasi manusia bisa saja tiba-tiba menghadirkan sosok-sosok ajaib di hadapannya; pocong yang minta dilepas ikatannya, perempuan cantik yang tak menginjak tanah, dan berbagai bentuk hantu lainnya. Pada dekade 70-an, atau mungkin sebelumnya, ketakutan manusia terhadap hantu-hantu itu dilihat sebagai sebuah komoditi. Melalui film-film yang dibintangi Suzanna, rasa takut itu dialihkan ke layar lebar dan justru dinikmati sebagai sebuah tamasya ketakutan yang ngetrend sampai hari ini kita sebut sebagai film horror.
Jeritan, jantung berdebar, hingga gemetar terkencing-kencing adalah sensasi yang justru dikejar dari tamasya ketakutan melalui film horror itu. Berawal dari trend kuntilanak dan sundel bolongnya suzanna, kini hantu-hantu selebritis itu berkembang lebih luas jadi nenek gayung, pocong keramas, hingga suster ngesot di skateboard. Sosok-sosok itu barangkali dipungut dari berbagai mitos ataupun urban legend yang menyebar dalam masyarakat, lalu dikembangkan dengan over-kreatif oleh para filmaker. Menariknya adalah animo penonton yang hampir tidak pernah turun terhadap film horror di Indonesia, hal ini dipicu oleh kesadaran penonton (kebanyakan remaja) yang justru ingin menantang diri melampaui rasa takutnya. Jadi rasanya tidak keliru, jika fenomena ini kita sebut sebagai tamasya ketakutan.
Beberapa paragraf di atas setidaknya bisa menjadi pengantar singkat untuk memasuki sebuah showcase foto yang digelar di Lingkara Photoart Community dengan mengangkat tema serupa, horror. Melalui sejumlah foto yang berderet itu, makna horror diretas ulang. Sebagaimana dalam catatan di atas, horror selalu identik dengan hantu-hantu, apapun jenisnya. Yang kemudian direduksi menjadi sebuah hiburan lewat layar lebar maupun televisi yang memacu adrenalin. Kehadiran hantu yang sebenarnya tidak nyata dan diperagakan oleh seorang aktor justru dinikmati, bahkan menjadi adiksi. Sesuatu yang justru dalam dunia nyata, malah dihindari. Dalam konteks ini, sosok hantu yang dihadirkan merupakan realisasi dari imajinasi si kreator (fotografer).
 Foto-foto hantu banyak dihadirkan oleh Ye Pe. Sebagaimana disinggung di atas soal hantu yang dihadirkan sebagai realisasi dari imajinasi Ye Pe sebagai fotografer. Melalui tubuh seorang model, imajinasi hantu itu dikonstruksi lewat foto dengan gaun putih, kaki mengambang, asap kabut, dan latar kegelapan. Sesuatu yang barangkali sudah lazim kita nikmati dalam berbagai adegan film saat si kuntilanak tiba-tiba menampakkan diri dari kegelapan malam. Itu soal pilihan visual, tapi yang menarik adalah menilik bagaimana posisi sosok hantu itu di mata kita saat ini.
Kuntilanak, sundel bolong, ataupun pocong merupakan bagian dari mitos ataupun urban legend yang menyebar di masyarakat. Secara nyata, sejumlah orang mengaku pernah melihat sosok itu, bahkan ada yang mengaku bisa memanggil, menangkap, lalu memenjarakannya dalam botol. Meskipun sulit kita terima dengan akal sehat, sebab seringkali orang-orang itu juga gagal menunjukkan bukti-bukti untuk menopang pengakuannya. Namun demikian, ketakutan akibat mitos-mitos tersebut telah diam-diam menyelinap dalam benak kita, sebagaimana kita seringkali memencet klakson tiap lewat pohon besar atau jembatan. Jangan-jangan, kita sedang membawa bekal imajinasi dari mitos itu dan membayangkan bahwa di pohon yang kita lewati ada sesosok perempuan cantik bergaun putih tanpa alas kaki, tapi punggungnya bolong.
Di titik ini, kehadiran foto-foto hantunya Ye Pe jadi menarik posisinya. Di satu sisi, foto-foto itu menjadi bagian dari mitos (urban legend, sastra lisan) yang menyebar dalam masyarakat dengan menjadi referensi visual bagi imajinasi banyak orang. Di sisi lain, foto-foto itu justru mengaburkan keberadaan mitos, sebab realitas kuntilanak itu telah dikonstruksi ulang melalui tubuh model yang aduhai nan seksi, sebagaimana mitos itu dulu dalam film-film dikonstruksi lewat wajah indo Suzanna (bintang hantu hari ini mungkin Dewi Persik atau Julia Peres yang tak kalah aduhai).
 Soal foto hantu, saya jadi teringat pengalaman saat SMP, saat itu beredar sebuah foto yang sudah berulangkali di fotokopi menampilkan sepasang muda mudi (konon asal kalimantan) bermesraan dan dibelakangnya nampak bayangan hantu dalam posisi tinggi kira-kira dua kali manusia normal. Cerita yang berkembang di kalangan anak SMP lugu macam saya, foto itu asli termasuk bayangan hantu, dan konon juga si pemudi meninggal sekian hari setelah kejadian itu. Hal serupa juga terjadi di televisi, tontonan berburu hantu atau uji nyali di bangunan tua seringkali memunculkan lingkaran merah dengan tanda panah untuk menunjukkan detail peristiwa ganjil; entah itu bayangan lewat atau bintik-bintik putih. Dan penonton televisi kita yang lugu meyakininya sebagai hantu narsis ingin masuk tv, dan berdecak dalam hati, “betapa canggihnya kamera milik stasiun tv swasta itu, bisa menyala dalam gelap sekaligus merekam gerakan hantu sekalipun.”
Bagi sebagian orang, horror barangkali tidak terlalu identik dengan hantu-hantu, melainkan semata-mata pada suasana yang memicu ketakutan sekaligus ngeri. Suasana semacam itu bisa disebabkan oleh banyak hal, melalui kesadisan misalnya, batas empati seseorang ditabrak begitu saja sehingga menimbulkan rasa takut sekaligus ngeri yang teramat dalam. Seperti sebuah peristiwa mutilasi yang menjadi akumulasi dari dua bentuk kesadisan yaitu pembunuhan sekaligus memotong mayatnya berulang-ulang. Perasaan siapa yang tidak terkoyak jika melihatnya? Ceceran darah, potongan tubuh, dan ekspresi bengis si pelaku. Dalam showcase ini, ada beberapa foto yang menarik dilihat dengan sudut pandang ini. 
 Seekor anak anjing (mungkin kucing) mati tergeletak di jalanan lengang, sekilas kita melihatnya sebagai korban tabrak lari. Lalu empati kita pun teriris, mengingat kelucuan si binatang kecil ini harus dirusak dengan ketegaan mencederainya. Namun di sampingnya tergeletak sepasang sendok-garpu, lagi kita disergap pertanyaan tentang sosok liyan yang dituju dengan paradoks sendok-garpu tersebut. Foto itu karya Nolandia Wijaya, tanpa sendok-garpu itu kita melihatnya sebagai foto dokumenter biasa. Tapi kehadiran piranti makan itu menimbulkan tanya, sebagai metafor dari peristiwa yang ‘memakan’ korban, atau justru secara verbal ingin bicara bahwa ada sosok liyan yang memakan bangkai si binatang kecil ini.
Lalu, sebuah foto yang berjudul ‘Nasib Akhir Alat Pikir’, sekilas foto yang nampak abstrak itu hanya menampilkan lanskap menjijikkan tentang sesuatu yang hangus terbakar dan meleleh. Berdasarkan referensi judul itulah lanskap itu baru nampak sebagai otak di kepala manusia dalam ritual ngaben, ritual sakral penyempurnaan maut manusia. Visual itu jelas mencederai empati siapapun yang melihatnya, membayangkan akibat suhu yang amat tinggi membuat batok tengkorak itu meletup dan melelehkan isinya. Foto itu menjadi menyayat karena menangkap detail peristiwa tepat di bagian yang ‘mengenaskan’. Barangkali dalam setiap ritual ngaben, peristiwa meletupnya batok kepala itu wajar terjadi, tanpa melihat lelehannya, dan hanya kobaran api, kengerian itu terabaikan. Foto ini secara jelas mengingatkan kita, bahwa dalam ritual penyempurnaan sekalipun, kita dipaksa melihat sebuah kengerian!
 Di luar itu masih ada sejumlah foto yang juga menampilkan kengerian, tidak secara verbal, namun puitis dengan menggiring memori sekaligus opini pemirsa. Salah satunya adalah foto karya Irawan Zuhri yang menampilkan foto rumah nomor 26, foto itu jelas langsung melemparkan pemirsa kepada sosok kecil Angeline. Rumah dalam foto itu adalah TKP penganiayaan sekaligus pembunuhan terhadap Angeline. Rumah yang kini berubah menjadi situs kengerian atas kekejaman seorang ibu angkat terhadap anaknya, sekaligus mencekam akibat memori kematian yang mengubahnya tak beda dengan sebuah kuburan.
Salah satu foto lainnya adalah karya Rudi Waisnawa berjudul “Last Kiss”, sepasang orang tua muda baru usai mengemas baju dalam tas, lalu mencium anak bayinya di lorong rumah sakit, di hadapannya seorang perawat nampak menanti. Meski ambigu (saya sengaja tidak mengkonfirmasi pada fotografer, semata-mata mengandalkan tafsir atas visual), sangat sayang seandainya melewatkan pembicaraan ini tanpa foto Rudi. Kita bisa saja bersilang pendapat soal peristiwa ‘asli’ itu, apakah benar itu sebuah ciuman terakhir yang berarti si pasangan muda itu akan meninggalkan anak bayinya di rumah sakit entah dengan alasan apa? Atau si anak bayi baru saja menghembuskan nafas terakhirnya akibat sakit? Atau justru sebuah ciuman haru biasa seorang ibu setelah melahirkan. Tapi, sudut pandang visual yang jauh, membuat foto Rudi mengarah pada peristiwa pertama. Di sana, sayatan itu seperti pisau tumpul yang digerakkan perlahan, melampaui sembilu. Kengerian itu hadir dari asumsi, “mengapa orang tua tega meninggalkan darah dagingnya sendiri.” Tanpa berkomentar, kita barangkali hanya bisa menahan kelu…

Senin, 17 Agustus 2015

PERTEMUAN ‘LUKA’ DUA NEGARA

THE DEAD PENALTY OF LETDA RETA   EKSEKUSI LETDA RETA, oil on canvas, 190x290 cm, 2014 

oleh Dwi S. Wibowo
 Lukisan itu seperti sebuah pagelaran drama yang singkat; seorang perempuan tua tegak berdiri memegang laras senapan di tangan kirinya, rautnya tajam dengan satu tangan lainnya berkacak di pinggang. Mungkin itu sebuah tuntutan, mungkin juga sebuah penghakiman. Di hadapannya, seorang pria berseragam infanteri nampak tersujud menghamba, alih-alih memohon pengampunan atau justru menyerahkan diri.
Lukisan bertiti mangsa 2015 itu diberi tajuk “Pengampunan (Forgiveness) #2” oleh pelukisnya, Mangu Putra. Bersama karya-karya dari seorang seniman senior asal Korea Selatan, Kang Yo-Bae, lukisan itu menjadi bagian dari tajuk besar pameran “Asian Realism” yang dihelat Hak Go Jae gallery di Shanghai, Tiongkok pada 11 Juli.
Hak Go Jae merupakan salah satu galeri ternama di Korea Selatan yang selama ini menjadi representasi dari karya-karya seni kontemporer asal negeri ginseng tersebut. Tidak hanya memberi ruang bagi seniman kontemporer secara umum, galeri ini secara lebih spesifik juga menjadi corong bagi karya-karya para seniman yang cukup intens menyoroti berbagai persoalan hak asasi manusia sekaligus menyuarakan perdamaian dunia. Untuk memperingati pembukaan cabang barunya di Shanghai, galeri ini menggelar sebuah pameran dengan melibatkan dua seniman yang memiliki kecenderungan karya bertema sosial, terutama menyangkut sejarah kekerasan yang terjadi di negaranya masing-masing sebagai refleksi dari perjuangan hak asasi manusia di Asia.
Sebagaimana digambarkan di atas, Mangu Putra, pelukis realis yang berasal dari pulau dewata ini memang memiliki kecenderungan karya dengan tema sosial yang sangat kuat. Terutama menyangkut peristiwa sejarah yang terkait dengan tragedi kemanusiaan di Indonesia. Beberapa karya termutakhirnya menunjukkan indikasi tersebut, tema seputar perang kemerdekaan dan pembantaian terhadap para komunis cukup banyak hadir dalam karyanya, termasuk dalam karya-karya yang dipamerkan di galeri Hak Go Jae.
Pameran ‘Asian Realism’ ini sekaligus menjadi kelanjutan langkah Mangu Putra dalam menyuarakan gagasannya tentang perjuangan mengungkap sejarah yang terjadi di Indonesia setelah sebelumnya, pada 11 hingga 16 mei lalu bersama kurator Arif B. Prasetyo, ia diundang untuk bicara dalam forum internasional tentang “Seni rupa, Demokrasi, HAM, dan Perdamaian” di Gwangju Museum of Arts.  Dalam forum tersebut, Mangu Putra memaparkan tentang beberapa tragedi kemanusiaan di Indonesia yang hingga hari ini masih menunggu untuk diungkap kebenarannya. Seperti tragedi pembantaian terhadap pengikut komunisme yang hingga tahun kelima puluh ini belum ada sikap resmi dari pemerintah dalam upaya penegakkan hukum.
FORGIVENESS #2, oil on canvas, 200 x 200 cm, 2015

Pandangan Mangu Putra tentang kemanusiaan itulah yang kemudian menarik perhatian pihak Hak Go Jae Gallery untuk menyandingkannya dengan Kang Yo Bae, seorang seniman senior yang juga memiliki perhatian khusus terhadap tragedi kemanusiaan yang terjadi di Korea Selatan. Sebagaimana Indonesia, Korea Selatan juga memiliki riwayat kelam tentang pembantaian kaum komunis yang terjadi pada kurun waktu 1948 hingga 1949. Hingga hari ini, peristiwa tersebut terus dikenang sebagai catatan hitam yang menodai sejarah oleh masyarakat setempat. Bahkan sebagai bentuk pertanggungjawaban moriil, pemerintah Korea Selatan membangun replika pemakaman di pulau Jeju untuk mengenang setiap tetes darah yang tumpah dari para martir.
Benang merah yang terjalin dari sejarah kelam itulah yang menautkan deretan karya dari Mangu Putra dan Kang Yo Bae. Keduanya barangkali termasuk sedikit seniman yang memiliki kepedulian tentang berbagai peristiwa pedih yang menimpa bangsanya, sekaligus berani ikut bersuara dalam upaya pengungkapan fakta sejarah yang sebenarnya. Tidak hanya di Indonesia dan Korea Selatan, tragedi kemanusiaan semacam itu juga menimpa sebagian negara asia lainnya. Dengan motif yang beragam; dari pergolakan kuasa politik, ideologi, hingga konflik antar etnis, tragedi itu menjalar dari satu negara ke negara lainnya secara perlahan.
Realitas kemanusiaan yang dihadapi masyarakat Asia hari ini adalah setumpuk kertas berisi catatan dari sejarah kelam yang menimpa bangsanya. Seiring dengan bergesernya pusat peradaban ke benua timur ini, semakin tumbuh kesadaran dari negara-negara yang tergabung di dalamnya untuk mulai memperbaiki diri dari noda sejarah. Perjuangan meraih demokrasi dan hak asasi manusia secara serentak mulai digemakan demi tercapainya perdamaian dunia. Tidak hanya untuk mengungkap fakta sejarah dari peristiwa yang telah lalu, namun juga untuk menghentikan berbagai tragedi yang masih berlangsung hingga hari ini. Mulai dari pemerintah, masyarakat umum, hingga para seniman semestinya terus menyuarakan berbagai tragedi kemanusiaan tersebut agar menjadi ingatan kolektif yang melekat sekaligus menjadi penuntun bagi perjuangan Hak Asasi Manusia.
HEROES DAY   HARI PAHLAWAN, 140x140 cm, oil & pastel on linen

Mangu Putra sendiri tidak hanya berusaha mengungkap fakta sejarah terkait tragedi pembantaian komunis yang terjadi di Indonesia, melainkan secara berkelanjutan terus melalukan riset sejarah tentang berbagai peristiwa yang pernah terjadi di negeri ini. Selain melakukan riset terhadap teks-teks referensi berupa buku ataupun catatan sejarah, riset yang dilakukan Mangu Putra juga menjangkau kumpulan foto dokumenter dari peristiwa tersebut. Dari foto-foto itulah, proses visualisasi sejarah itu berlangsung dalam studio Mangu Putra. Menurut kurator yang juga sahabat karibnya, Arif B. Prasetyo, “selain Mangu, tidak banyak pelukis atau seniman di Indonesia yang punya keberanian untuk mengangkat peristiwa sejarah sebagai tema karya. Apalagi menyampaikan realita dalam karya tanpa melalui simbol-simbol, karena itulah karya-karya Mangu Putra jadi sangat menonjol.”
Salah satu karyanya yang juga dipamerkan dalam “Asian Realism” berkisah tentang perang Puputan Badung yang terjadi di Bali tahun 1906. Masyarakat Bali yang sejak semula menolak tunduk pada kuasa kolonialisme Belanda memilih jalan suci sebagai martir dengan menikam diri dalam perang tersebut. Seperti terlukis dalam karya tersebut, bahwa mayat-mayat yang berbalut kain serba putih itu pada akhirnya memberi dampak kekalahan moriil yang dialami kubu Belanda. Lukisan tersebut juga dikonstruksi oleh Mangu Putra secara kolektif dengan berdasar pada sekumpulan foto yang diperolehnya pada proses riset.
Sejak awal, karya-karya Mangu Putra memang didominasi berbagai tema sosial. Baginya, melukis adalah juga mengungkap realitas sosial yang terjadi dalam masyarakat. Termasuk karya-karyanya yang bertema sejarah, juga merupakan sebentuk upaya mengungkap realitas yang terjadi pada peristiwa yang telah lalu tersebut. Sejarah yang tercatat hari ini adalah milik penguasa, sejarah ditulis dan disebarkan untuk kepentingan penguasa. Apalagi sejarah yang menyangkut tragedi kemanusiaan, jangan-jangan sejarah yang beredar tentangnya justru membenarkan para pelaku. Di sanalah, karya Mangu Putra menempatkan diri sebagai tawaran ulang sekaligus pengingat atas segala sudut pandang terkait peristiwa tersebut.
*)tulisan ini dipublikasikan di majalah Sarasvati edisi Agustus 2015


Rabu, 15 Juli 2015

RITUS SUNYI DALAM RIUH MANUSIA URBAN


I Wayan Suja_Trafic Light_2015_oil on canvas_120x150 cm

Oleh Dwi S. Wibowo
Arus pariwisata yang demikian deras menghujam Bali, mau tidak mau menimbulkan dampak sosial yang tidak sedikit. Persinggungan antara wisatawan asing yang datang membawa modernitas dengan penduduk setempat yang masih berbasis tradisi telah melahirkan suatu lanskap multikultur. Secara kasat mata, dampak tersebut nampak dari berkembangnya beberapa daerah pedesaan menjadi kosmopolitan, lengkap dengan gemerlap lampu reklame yang saling berebut pandangan. Hal tersebut sekaligus berimbas pada tumbuhnya mentalitas urban pada masyarakat Bali yang semula memegang teguh nilai-nilai spiritual.
Tegangan antara hasrat menjadi manusia kosmopolit dan tarikan nilai-nilai spiritual mustahil untuk dihindari, sehingga dari sana lahirlah masyarakat spiritual yang khusyuk namun semu. Fenomena tersebut menggelitik sejumlah perupa yang berasal dari Bali untuk meresponnya dengan menghelat pameran yang bertajuk “Spiritualitas Urban”. Tidak hanya memandang fenomena urban yang berlangsung di Bali, mereka juga mengajak serta para perupa dari Bandung untuk urun rembug dengan menghadirkan fenomena serupa yang terjadi di kotanya.
Pameran yang dihelat di Sudakara Art Space Sanur hingga 10 Agustus tersebut melibatkan sejumlah perupa Bali, mereka antara lain Wayan Suja, Wayan Upadana, Made Muliana “Bayak”, Made Wiguna Valasara, Jaya Putra dan Ngakan Ardana. Sedangkan perupa Bandung yang turut andil dalam pameran ini ialah Willy Himawan, Dadan Setiawan, Guntur Timur, Muhammad Regie Aquara, dan Imam Sapari. Masing-masing dari mereka menawarkan berbagai persoalan yang terkait dengan proses asimilasi antara yang tradisional dan yang modern, baik berupa kontradiksi visual yang seringkali mengulik pandangan, hingga renungan yang lebih mendalam terhadap perubahan kultur yang tengah mereka saksikan.
Lahirnya masyarakat urban tidak dipungkiri sebagai imbas langsung dari berkembangnya sistem ekonomi kapital yang terjadi di berbagai wilayah. Seperti diungkap Wayan Seriyoga Parta, penulis dalam pameran ini yang mengetengahkan isu bahwa meluasnya jangkauan modal multinasional hingga ke sektor pedesaan, telah menumbuhkembangkan desa-desa metropolitan. Di Bali, desa-desa metropolitan tersebut membentang dari Kuta, Sanur, hingga ke Ubud. sedangkan di Bandung, fenomena serupa dapat dijumpai di kawasan Dago dan Lembang. Perubahan struktur sosial tersebut sekaligus menunjukkan perubahan perilaku masyarakat yang semula kolektif menjadi masyarakat baru yang justru mengarah pada sifat-sifat individualistis.
Pola perilaku masyarakat tersebut menjadi kriteria utama untuk menandai suatu masyarakat yang telah berkembang menjadi urban. Individualitas terbentuk melalui kesadaran akan potensi diri dan tuntutan profesionalitas yang terikat pada kepentingan tertentu, yang berujung pada ironi dalam masyarakat kita. Di Bali, dapat disaksikan pola perubahan perilaku masyarakat yang dipacu oleh derasnya arus pariwisata. Kedatangan wisatawan asing menjadi magnet ekonomi sekaligus magnet gaya hidup yang menarik masyarakat lokal pada pola hidup pragmatis yang memuja individualitas dan budaya instant. Fenomena tersebut dipotret oleh Wayan Suja melalui dua karyanya yaitu “Traffic Light” dan “Because We Need Something That Keep Fresh”. Kedua lukisan tersebut menampilkan ironi sekaligus paradoks yang terdapat pada perilaku masyarakat Bali dalam laku spiritualnya.
Lukisan “Traffic Light” menampilkan sebuah pemandangan dari balik kaca mobil yang menampilkan kemacetan lalu lintas perkotaan, uniknya di atas dashboard mobil Wayan Suja menempatkan sebuah simbol spiritualitas berupa sesaji canang sari dengan beberapa butir permen di atasnya. Seolah menjadi ironi, bahwa di tengah ruwetnya kemacetan lalu lintas masih tersisa sedikit kesunyian spiritualitas manusia. Sedangkan pada lukisan “Because We Need Something That Keep Fresh,” masih dengan idiom canang sari, ia mencoba menawarkan sebuah potret perilaku masyarakat yang berubah pragmatis. Ironi tersebut dihadirkan melalui gambaran lemari pendingin yang sebenarnya berfungsi untuk mengawetkan bahan makanan, berubah menjadi alat pengawet bagi elemen organik yang terdapat pada canang sari seperti bunga dan dedaunan. Menurut Suja, perubahan perilaku tersebut diakibatkan oleh meningkatnya mobilitas masyarakat dalam berbagai usaha mengejar kemakmuran material sehingga menggeser esensi dari laku spiritualis mereka.
MUHAMMAD REGGIE AQUARA_Summertime_2015_Acrylic on canvas & Butterfly Taxidermy_63 cm X 71 cm

Ironi serupa juga dihadirkan oleh Made Muliana ‘Bayak’ dengan fokus pada meningkatnya perilaku konsumerisme pada masyarakat Bali. Arus pariwisata sekaligus menjadi pintu bagi masuknya berbagai produk industri yang dengan segera menjadi bagian dari kebutuhan masyarakat lokal. Efek paling kentara dari perilaku konsumerisme tersebut adalah tersisanya sampah berupa plastik kemasan produk industri yang berserakan dimana-mana. Fenomena tersebut menggugah Bayak untuk membangun satir dengan melukis di permukaan sampah-sampah plastik tersebut, menghadirkan figur-figur yang lekat dengan tradisi spiritual Bali. Dalam karya “Bali Legacy,” figur penari disandingkan dengan latar yang tersusun dari bentangan sampah-sampah plastik kemasan. Seni, termasuk juga tarian merupakan suatu laku spiritual yang dihayati oleh masyarakat Bali sebagai bagian dari persembahan yang indah kepada pencipta. Namun pada prakteknya, pariwisata lagi-lagi mengubahnya menjadi sekedar atraksi yang menarik.
Spiritualitas urban tidak hanya terbatas pada tegangan antara modernitas dan tradisional dalam konteks sosial masyarakatnya semata, melainkan dapat ditarik juga pada persoalan dialog dengan alam. Sebagai representasi dari semesta, alam menghadirkan sebuah dimensi mistis yang membawa manusia pada aspek spiritualitasnya sebagaimana tergambar dalam karya-karya Dadan Setiawan dan Muhammad Regie Aquara. Dua karya Dadan Setiawan dengan seri “Lost in IG Series” melukiskan sebuah pemandangan alam dengan suasana yang kelam. Dalam kedua karya tersebut, Dadan juga mengkombinasikan pemandangan tersebut dengan kotak-kotak piksel warna di bagian tengah lukisan. Piksel-piksel warna tersebut menjadi dimensi tersendiri yang menyedot perhatian siapapun yang melihatnya, dan melontarkannya balik pada pemahaman bahwa alam senantiasa menyimpan misteri. Namun hadirnya kotak-kotak piksel warna tersebut sekaligus menjadi kontradiksi visual antara yang natural dan industrial, mengingat piksel warna adalah produk dari kemajuan teknologi di bidang fotografi pada mulanya.
dadan setiawan_#toughfull #openminds #realize #isallinyourhead (lost in IG series)_2015_oil on canvas_90x90cm

Potret tegangan antara yang tradisi dan modernitas nampaknya tidak begitu muncul dalam karya-karya perupa yang berasal dari Bandung. Karya-karya mereka justru lebih menunjukkan kecenderungan sudut pandang yang mengarah pada tegangan antara alam dan modernitas. Perbedaan karakteristik karya antara perupa yang berasal dari Bali dan Bandung tersebut pada akhirnya memberi pemahaman bahwa kedua kota tersebut memang memiliki masalah yang juga berbeda. Dimensi urbanitas yang terbentuk pada masyarakat di kedua kota tersebut berasal dari latar belakang yang berbeda sehingga menghasilkan lanskap yang berbeda pula. Bali yang identik dengan spiritualitas Hindu yang melekat dalam tradisinya berbenturan dengan modernitas yang dibawa oleh arus pariwisata, dimana tradisi mengalami pergeseran menjadi semata identitas kultural tanpa esensi. Sedangkan Bandung yang memiliki dimensi spiritualitas dari religi (muslim) maupun penghayat keyakinan (sunda wiwitan) mengalami benturan dengan modernitas yang lahir dari arus pembangunan kota yang begitu cepat tanpa memperhatikan aspek ekologi sebagai lingkungan hidup.
Sebuah karya yang lebih esensial dihadirkan oleh Wayan Upadana melalui video instalasi berjudul “Memoscape.” Dengan menggabungkan video dokumenter dengan gunungan resin untuk membangun dimensi, Upadana menawarkan renungan tentang esensi spiritualitas yang berasal dari alam dengan metafora gunung dan lautan. Melalui video dokumenter yang ditayangkan lewat televisi, ia ingin mengkritisi peran media tersebut dalam membentuk mentalitas urban masyarakat melalui berbagai tayangan. “Dalam karya ini saya ingin audience merasakan kembali kehadiran alam di media televisi, untuk memberikan kedekatan emosional dan bagaimana ‘ingatan’ memberikan stimulan pada perasaan orang yang melihatnya,” ungkapnya.
Pameran “Spiritualitas Urban” ini menawarkan sebuah renungan tentang kondidi transisi yang terjadi dalam masyarakat kita melalui potret dua kota, yaitu Bali dan Bandung dimana kedua masyarakat di kota tersebut mengalami tegangan antara menghamba pada urbanitas yang gemerlap atau menahan diri pada ruang-ruang sunyi spiritualitas. Kebudayaan dan kehidupan suatu masyarakat selalu bergulir dan secara terus menerus melakukan penyesuaian bentuk dengan zamannya. Ironi, paradoks, ataupun kontradiksi visual dalam spiritualitas masyarakat urban yang kita lihat hari ini adalah sebuah keniscayaan yang terus mengada.
 *) Tulisan ini pernah dipublikasikan di majalah Sarasvati edisi Juli 2015

Selasa, 07 Juli 2015

Ngundhuh Wohing Parikan

Amanah Idola (3)

Oleh Dwi S. Wibowo
Mengintip Galeri Nginjen adalah mengintip jungkir baliknya dunia lewat permainan atas beberapa teks parikan yang diplesetkan oleh Heirda Vicitra. Beberapa seniman muda lainnya, berkesempatan untuk memindahkan parikan-parikan nakal itu menjadi sebuah gambaran yang mengulik mata dan menggelitik pikiran. Mereka adalah Vicha, Hasan, dan Yonaz.
Parikan, dalam khazanah bahasa Jawa adalah sebuah petuah yang disusun melalui pola pengulangan rima, hampir sama dengan pantun, bedanya, dalam parikan tidak ada sampiran. Pada praktiknya, dalam masyarakat jawa, parikan bergerak sebagai idiom yang hingga kini masih terus digunakan dalam percakapan sehari-hari, bahkan seringkali menyentuh bagian paling intim dari kehidupan manusia; religi.
Membaca parikan-parikan yang telah diplesetkan oleh Heirda Vicitra, kita akan dituntun untuk melihat kenakalan sekaligus kecerdikannya dalam memandang fenomena sosial hari ini. Dengan jeli,  ia memainkan teks-teks parikan tersebut dan menautkannya dengan gelagat kebanyakan orang yang setiap hari kita saksikan di mana-mana. Barangkali, saat pertama tercipta, parikan juga adalah sebuah respon dari berbagai fenomena sosial yang terjadi pada jamannya.
Selama ini, kita terbelenggu pada pemaknaan dan penggunaan teks parikan secara kaku. Seolah-olah, parikan hanya pas jika digunakan dalam percakapan bahasa jawa ataupun dalam konteks pembicaraan yang menaut ke-jawa-an di dalamnya. Tapi hari ini,  kita bakalan nyengir-nyengir sendiri kalau membaca parikan-parikan Heirda Vicitra. Nyengir karena merasa lucu, mungkin karena geli, mungkin karena tidak habis pikir, atau bahkan nyengir karena merasa tersindir. Nah!
jer basuki mawa selfie

Parikan-parikan Heirda Vicitra memang meluncur begitu saja, seolah spontan, tapi bakalan panas di telinga karena mengandung satir yang tidak main-main. Kejeliannya memandang fenomena sosial, pada akhirnya melahirkan kritik yang ironik melaui parikan-parikan yang diplesetkannya. Pilihan Heirda Vicitra untuk bermain dengan parikan bisa dibilang menarik, mengingat cakupannya yang luas meliputi berbagai gelagat yang dilakukan hampir semua orang. Sehingga kritik yang disampaikan olehnya melalui satir atau sindiran dalam parikan tersebut, hadir sebagai kritik yang pedas manis. Pedas di lidah, tapi manis di hati.
Media sosial, gadget, barang-barang branded, dan sosialita dunia selebritis adalah hal-hal yang sudah tidak mungkin dilepaskan dari gaya hidup kita hari ini. Tanpa semua itu, seolah dunia hampa. Fenomena itulah yang kemudian diliteralkan oleh Heirda Vicitra melaui parikan-parikan plesetannya. Piranti teknologi, konsumerisme, dan budaya populer telah menjelma menjadi bagian tidak terpisahkan dari kehidupan kita. Semua itu mustahil dihindari di tengah arus informasi dan komunikasi yang begitu cepat dapat kita akses hari ini. Waktu bersama gadget kesayangan menjadi sangat berarti, bayangkan saja, dalam semenit ada berapa informasi dari berapa situs yang kita akses sekaligus. Dan bayangkan juga saat kalian mandi, berapa informasi yang kalian lewatkan di media sosial? Cuma gara-gara mandi, bisa jadi kudet alias kurang update.
Media sosial adalah jurang paling nista yang bisa menjerumuskan manusia ke dalam lembah kenarsisan. Yang paling menyesaki media sosial belakangan ini adalah foto-foto selfie yang diunggah dari berbagai penjuru nusantara. Semua aktifitas yang kita kerjakan pokoknya tidak boleh terlalui tanpa selfie, meskipun cuma sekali, dan setelah itu segera edit lalu unggah ke medsos. Semua berlomba-lomba untuk menghadirkan dirinya dalam media sosial melalui foto-foto selfie yang diunggahnya, sehingga sesulit apapun medan yang dilalui, tetap harus selfie. Inget peristiwa turis yang kecebur jurang gara-gara selfie? Cuma demi eksistensi, sampai-sampai nyawa jadi taruhan. Masyaallah! Jer basuki mawa selfie, setiap pencapaian membutuhkan selfie.
rawe-rawe rantas malang golek utangan

Instagram adalah media yang paling populer disambangi para selfie mania. Instagram memang memberi ruang khusus untuk foto, lain dengan facebook atau twitter yang justru maksa jidad berkerut karena kita dituntut untuk mengungkapkan sesuatu secara tertulis. Instagram menawarkan sesuatu yang lebih menyenangkan, dengan foto kita bisa mengungkapkan sesuatu. Tinggal cari objek, foto, edit, lalu unggah. Dan selanjutnya serahkan pada followers, mau nge-like boleh, mau comment boleh, asal jangan unfollow saja. Kalau kata Heirda Vicitra, “sepi ing pamrih, rame in... stagram.”
Melalui karya-karya Vicha, kita bisa melihat bagaimana teks-teks parikan yang telah diplesetkan itu menjelma menjadi gagasan visual yang menarik. Dengan teknik kolasenya, kita akan dituntun untuk melihat bagaimana media sosial dan juga internet telah menjelma jadi kebutuhan primer yang bahkan melampaui kebutuhan sandhang dan pangan. Sehari tanpa kuota, serasa di neraka. Tapi sehari tanpa makan? tuh buktinya orang pada bisa puasa, bahkan sebulan juga tahan.
Internet adalah dunia yang maha luas melampaui jagat raya. Selain kebutuhan eksistensi, media sosial juga mengumbar nafsu manusia untuk menjelajahi berbagai kemungkinan gaya hidup; dari yang paling susah sebagai hippies, sampai yang paling menggiurkan sebagai sosialita. Semua itu ditunjang oleh arus kapitalisme yang mengalir 24 jam di seantero situs yang bisa diakses. Hamparan iklan dan bayangan hidup a la selebritis holywood dengan seabrek barang mewahnya sudah terbiasa kita saksikan melalui media sosial. Hal tersebut, mau tidak mau juga menyeret kita pada keinginan untuk memiliki barang-barang serupa. Beruntung bagi yang bisa membeli yang asli, dan bagi warga kelas menengah cukuplah dengan barang kawe.
amanah idola (7)

Ketidakterpisahan kita dengan barang-barang mewah tersebut terangkum dalam beberapa karya Yonaz. Melalui seri karya ‘Amanah Idola’ dari satu sampai tujuh, kita akan melihat beberapa teks parikan Heirda Vicitra yang telah malih rupa. Terlihat Johny Depp lengkap dengan topi melingkar tengah mengacungkan jari telunjuknya ke atas, di baliknya sebagai latar adalah hamparan teks parikan hasil plesetan Heirda Vicitra “manunggaling kawula Gucci” yang menyitir teks asli yang berbunyi “manunggaling kawula gusti”. Teks tersebut adalah sebuah ungkapan untuk menggambarkan keterikatan manusia dengan sang gusti alias yang ilahi, namun dengan gubahan kata gusti menjadi Gucci, barangkali kita bisa menarik makna yang sama bahwa manusia juga memiliki keterikatan pada barang-barang bermerek Gucci. Bahkan tidak hanya Gucci, mungkin juga Louis Vuitton, atau juga Channel.
Sedangkan pada karya-karya Hasan yang merespon parikan milik Heirda Vicitra, kita akan melihat bagaimana respon publik terhadap berbagai fenomena sosial yang sudah lebih dulu digarap oleh Vicha dan Yonaz. Pada akhirnya, kita harus mengakui bahwa telah terjadi banyak pergeseran kebutuhan dalam hidup kita. Sebagaimana disebutkan di atas, bahwa internet berikut ekor-ekornya telah merangsek menjadi kebutuhan primer dalam kehidupan kita, mau tidak mau kita harus menghitung ulang pengeluaran yang secara nominal pasti meningkat sebagai konsekuensi mendasar. Bagi kalangan masyarakat menengah ke atas, barangkali barang-barang branded sekelas Gucci ataupun piranti elektronik plus kuota unlimited bukanlah sebuah persoalan besar. Lain dengan masyarakat kelas bawah yang jangankan memiliki barang tersebut, memimpikan kawenya saja merasa tidak layak. Meskipun demikian, apapun kelas sosialnya, konsumerisme tetaplah gaya hidup yang kontraproduktif.

Sebagaimana digambarkan dalam karya-karya Hasan, ada dua parikan Heirda Vicitra yang dialih visualkan, yaitu “rawe-rawe rantas, malang-malang golek utangan” dan “asu gedhe menang kerahe, amarga durung tau mungsuh Darthvader”. Bagi mereka yang berasal dari kelas bawah, hutang menjadi solusi untuk memenuhi kebutuhan yang sebenarnya diluar jangkauannya. Sedangkan bagi mereka yang berada di kelas atas, juga tidak lepas dari persoalan narsistik atas modal sosial yang dimilikinya, sebagaimana anjing besar yang menang gonggongan. Pada akhirnya, melalui pameran ini, kita diajak untuk bercermin; melihat ke dalam diri. Masihkah keinginan-keinginan itu, menjangkiti raga kita? Mari kita saling bertanya, tanpa perlu panas telinga. 

*)tulisan ini merupakan bagian dari commision work Artjog 2015, simulasi galeri yang dikerjakan oleh Indieguerillaz

Kamis, 02 Juli 2015

Imajinasi dari Riwayat Tubuh yang Berserak




oleh Dwi S. Wibowo
Setiap tubuh memiliki narasinya masing-masing, termasuk deretan tubuh yang terpajang dalam pameran My Exquisite Corpse yang dihelat Biasa Part Space, Seminyak, Bali. Sayangnya, tubuh-tubuh tersebut tidak lagi utuh sebagai figur, melainkan telah terpotong dan tersusun secara acak menyerupai rangkaian loker yang menyimpan berbagai memori perihal transposisi antar bagian tubuh tersebut.
Berangkat dari pemahaman tentang exquisite corpse, yaitu sebuah teknik kolase untuk mengkonstruksi tubuh surrealis, pameran ini mencoba melangkah lebih jauh dengan melibatkan para pemirsanya untuk turut andil dalam menyusun narasi-narasi baru berbahan potongan karya para seniman.
Pameran ini melibatkan tiga belas orang seniman dari berbagai kota, mereka antara lain Asakoo Alexandra, Bayu Widodo, Citra Kemala, Davina Stephen, Iwan Sastrawan, Made Bayak, Made Wiguna Valasara, Nadira Julia, Natisa Jones, Prabu Perdana, Resatio Adi Putra, Spencer Hansen, dan Wayan Suja. Masing-masing dari mereka melukis sesosok tubuh yang terbagi menjadi empat panel.
Setiap pemirsa yang hadir dalam pameran ini tidak hanya berhak memotret ataupun menikmati karya melalui pandangan, melainkan bebas berinteraksi dengan karya. “Mereka boleh menukar, menggeser, bahkan mengubah susunan tubuh dan membentuk figur-figur baru,” tutur Naomi Samara, kurator  pameran tersebut.
Ia juga menambahkan bahwa melalui interaksi semacam itu bisa lebih mendekatkan pengunjung dengan karya, sekaligus menghidupkan suasana pameran. Selama ini terdapat jarak antara pemirsa dengan karya melalui larangan menyentuh karya ataupun yang lainnya. Dalam pameran ini, seluruh pemirsa bebas menyentuh karya, bahkan memindah dan menukar posisinya. Interaksi antara pemirsa dan karya juga melahirkan beragam kemungkinan baru terhadap pemaknaan atas tubuh-tubuh tersebut.
Selama ini dalam berbagai pameran, interaksi hanya dibatasi melalui pandangan, sehingga proses pemaknaan terhadap karya menjadi terbatas. Meskipun, dalam posisi semacam ini, otoritas seniman dalam menyampaikan gagasan menjadi mutlak. Sedangkan dalam pameran ini, pemirsa bebas mengacak karya, sehingga proses pemaknaan menjadi lebih luas karena transposisi antar bagian tubuh pada akhirnya melahirkan figur-figur baru yang bahkan di luar imajinasi seniman. Suatu dekonstruksi visual atas tubuh untuk melahirkan figur yang baru.
Penggabungan antara dua atau lebih potongan karya menjadi sebuah figur baru juga menjadi peleburan gagasan dari masing-masing seniman yang selama ini terbatas pada satu bidang kanvas. Dalam pameran ini, semua gagasan menjadi cair tanpa adanya batasan ruang. Sebagaimana tajuk dalam pameran ini, yang sebenarnya lebih merepresentasikan pameran ini sebagai sebuah peristiwa seni yang melibatkan pemirsa secara aktif.
Setiap seniman dalam pemeran ini menampilkan masing-masing sesosok tubuh yang dipecah menjadi empat panel kanvas. Naomi, sebagai kurator sepertinya juga memberi kebebasan secara penuh kepada para seniman untuk menghadirkan figur apapun tanpa membatasinya dalam kerangka tema tertentu. Selain batasan teknis berupa format dan ukuran medium kanvas yang digunakan. Sebagaimana karya Wayan Suja yang bertajuk ‘I’m An Artist, Not A Hero’ menampilkan potret dirinya secara utuh, meski hanya berbalut cawat. Karya Bayu Widodo yang bertajuk ‘Ibu Bumi’ menghadirkan sesosok figur berlumur dedaunan, atau Made Bayak yang mereduksi sosok Bhutakala melalui karya ‘Bhutakal Plastic and The Highest Conciuousness’.

Surealisme dan Pemaknaan Atas Tubuh
Exquisite corpse merupakan salah satu teknik yang dipopulerkan oleh gerakan surealisme di Prancis pada era 1920-an. Istilah lain dari teknik ini adalah exquisite cadaver, berangkat dari gagasan mengenai penciptaan tubuh yang utuh dari kombinasi antara beberapa potongan tubuh yang saling berbeda. Exquisite corpse Menjadi salah satu teknik yang paling populer dalam gerakan yang digawangi oleh Andre Breton tersebut.
Titik awal dari teknik ini juga bermula dari sebuah aktivitas yang sangat interaktif dengan melibatkan beberapa seniman sekaligus. Yaitu dengan membagi bidang gambar menjadi empat dan membagikan kesempatan pada keempas seniman berbeda untuk melukis tiap bagian secara bersamaan tanpa saling tahu apa yang dilukis oleh yang lain. Saat usai, barulah keempat bidang gambar tersebut disatukan menjadi kesatuan tubuh yang mungkin tak karuan bentuknya. Namun begitulah hakikat surealisme, mencari kemungkinan penciptaan sejauh yang tak ada dalam kenyataan.
Surealisme muncul sebagai gerakan lanjutan dari arus dadaisme yang berkembang sebagai respon terhadap perang dunia satu. Dadaisme sendiri merupakan bentuk penolakan terhadap kemajuan logika dan peradaban secara berlebihan yang justru menimbulkan perang dengan sekian juta korban jiwa. Jika dadaisme adalah gerakan yang cenderung politis, maka surealisme cenderung lebih mengarah pada penolakan rasionalitas pemikiran yang berkembang di Eropa. Antitesis yang ditawarkan oleh gerakan surealisme adalah dengan mengeksplorasi dunia bawah sadar manusia dimana segala keajaiban mungkin terjadi, dengan ditopang psikoanalisa Sigmund Freud.  
Jika ditarik pada aspek historis tersebut, tentu pameran ini telah melangkah lebih jauh. Baik secara motif (tendensi) maupun konteksnya. Pemaknaan Figur atau tubuh yang hadir hari ini tentu berbeda dengan pemaknaan tubuh pada saat gerakan surealisme ini baru menetas. Tubuh hari ini tidak hanya menjadi tubuh biologis, namun juga menjadi tubuh sosial yang dilampiri begitu banyak label. Pemaknaan tubuh hari ini selalu berangkat dari latar belakang sosial dan waktu, sehingga melahirkan pertanyaan-pertanyaan menyangkut status sosial, riwayat hidup, atau bahkan silsilah keluarga. Dan selalu berujung pada persepsi publik berdasarkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut. Maka tidak heran jika seseorang bisa memiliki citra berbeda di mata banyak orang.
Termasuk dalam pameran ini, kita seperti diajak untuk melihat bagaimana pemaknaan sekaligus bentuk tubuh dalam lukisan-lukisan itu disusun oleh seorang pemirsa, dan dengan segera akan dibongkar lagi oleh pemirsa yang lain. Sebagaimana seseorang dibentuk citranya oleh publik yang bersinggungan dengannya, dan akan segera didekonstruksi ulang oleh publik-bublik baru yang dijumpainya. Hari ini, proses sosial semacam itu berlangsung lebih cepat karena ditunjang oleh dunia maya yang memungkinkan orang saling berinteraksi tanpa saling bertemu. Citraan-citraan yang terbangun atas tubuh itu menjadi lebih cepat pula direduksi oleh publik maya yang nirbatas. Dan pameran My Exquisite Corpse ini, saya kira, merefleksikan proses sosial tersebut.

*)tulisan ini pernah dipublikasikan di Bali Post minggu, 28 Juni 2015