Biennale Jogja XII menuai kritik?
Disampaikan pada saat malam penutupan di gedung societet taman budaya Yogyakarta,
djoko pekik, pelukis senior yang malam itu menerima penghargaan lifetime achievement
dalam pernyataannya menyampaikan kritik yang begitu tajam untuk penyelenggara Biennale
Jogja XII. “Saya beberapa kali menyempatkan diri bersepeda untuk mengunjungi
beberapa lokasi pameran Biennale, tapi yang saya dapati sama: ruang pamer yang
kosong dan sepi,” begitu pelukis yang sempat mendekam di kamp pengasingan
selama masa orde baru mengawali kritiknya.
Selasa, 07 Januari 2014
Kamis, 05 Desember 2013
MELAMPAUI MATA TELANJANG
Melampaui Mata Telanjang
Catatan apresiasi terhadap karya Pupuk Daru Purnomo dalam pameran Meta/Mata
Catatan apresiasi terhadap karya Pupuk Daru Purnomo dalam pameran Meta/Mata
Pain is inevitable, suffering is
optional (Haruki Murakami)
Bagi seorang
perupa, mata adalah indera terpenting dari kelima indera lainnya. Karena
melalui mata, seorang perupa mampu menangkap realita kemudian sekali lagi
memvisualkannya ke dalam medium kanvas. Mengetahui ada penyakit yang menyerang
matanya, tentu menjadi pukulan yang amat berat bagi seorang perupa, apalagi di
tengah kematangan usia dan pengalamannya. Seperti sebuah pertaruhan, menang
melawan penyakit yang berarti bisa kembali melanjutkan karir keseniannya, atau
kalah dan karir kesenian cukup sampai disini. Tidak mudah berada dalam situasi
semacam itu, tapi diam sama artinya dengan menyerah, maka lebih baik melawan
dengan terus berkarya di tengah keterbatasan.
Jumat, 01 Februari 2013
GALANGKANGIN MENGGUGAT BALI
GALANGKANGIN MENGGUGAT BALI
Apalah
artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan
Apalah
artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan (Rendra, Sajak Sebatang
Lisong)
okupasi, i made supena.
Bila anda membaca artikel tentang
pulau dewata bali di sebuah koran, majalah, situs internet, atau brosur
pariwisata dan belum pernah sekalipun menginjakkan kaki anda di bali, image apa
yang mungkin muncul dalam benak anda? Barangkali bali adalah pulau yang asri,
yang keseimbangan alamnya masih terjaga, dimana sawahnya yang berundak-undak
dipenuhi petani dan masyarakatnya masih gigih memegang tradisi. Indah sekali,
sepertihalnya lukisan-lukisan mooi indie yang sempat populer di kisaran tahun
1930-an. Tapi bila anda punya waktu luang, dan sedikit anggaran untuk liburan
ke pulau bali, jangan terlalu kaget bila bayangan yang sempat muncul di benak
anda mungkin tidak sesuai dengan kenyataan yang ada. Bali sudah jauh berubah. Meskipun
di beberapa bagian masih diupayakan pelestarian ekologi.
Minggu, 23 September 2012
LOYALITAS PADA UKURAN
LOYALITAS PADA UKURAN
kritik terhadap pameran XXL : State of
Indonesian Art
oleh dwi s. wibowo
agus suwage, monumen penjaga hankamnas (photo by dyah merta)
12 Agustus lalu, Jogja Contemporary menggelar
sebuah pameran di Sangkring Art Space yang merangkul sekitar 15 perupa top list di Indonesia. Perlu dicatat, toplist atau yang berada di urutan
teratas dalam daftar perupa-perupa paling tersohor, paling sukses, dan paling
diburu kolektor. Mereka ialah Agus Suwage, Arahmaiani, Budi Kustarto, Eko
Nugroho, Handiwirman, Heri Dono, Jumaldi Alfi, M Irfan, Mella Jaarsma, Nasirun,
Nindityo Adipurnomo, Putu Sutawijaya, Tisna Sanjaya, Ugo Untoro, dan Yusra
Martunus. Bukan bermaksud sinis, tapi barangkali pada pameran yang diberi tajuk
‘XXL : State of Indonesian Art’ sang kurator, Valentine Willie ingin memberikan
gambaran aktual terkait perkembangan seni rupa di Indonesia. Ia sendiri telah
malang melintang di dunia seni rupa Asia tenggara, dan Indonesia yang memiliki
cukup keanekaragaman karakter perupa jadi salah satu wilayah yang diamatinya
beberapa tahun belakangan ini.
Selasa, 31 Juli 2012
MONUMEN (bagi) REVOLUSI PERANCIS
Monumen (bagi) Revolusi Perancis
A friend who dies, it's something of you who dies. (gustave
flaubert)
“Mereka
baru selesai bercinta!”
“tidak,
perempuan itu membunuhnya sebelum bercinta!”
Revolusi perancis tidak hanya
meninggalkan bond-bond hutang belanja maria antoinette dan comte d’artois
saudaranya yang dianggap sebagai pemborosan besar-besaran terhadap keuangan
kerajaan, yang memantik amarah rakyat perancis kala itu. Revolusi perancis,
sekali lagi tidak hanya meninggalkan cerita tentang pendudukan rakyat terhadap
penjara bastille setelah pertempuran selama empat jam. Bastille sendiri menjadi
simbol bagi apa saja yang dibenci oleh keluarga kerajaan pada ancien regime. Juga tidak semata
meninggalkan kisah keperkasaan jenderal napoleon bonaparte sebagai penguasa
perancis pasca revolusi. Di samping cerita tersebut, yang sebagian besar orang
menandainya sebagai tugu-tugu besar revolusi perancis, masih terdapat sebuah
cerita lain yang mungkin bagi sebagian orang tersebut tidaklah begitu penting
untuk diketahui. Di tengah-tengah proses revolusi yang tengah berjalan,
ternyata terselip sebuah kasus pembunuhan yang bermula dari sebuah skandal
(seperti saya ilustrasikan dalam dialog di awal tulisan ini). Pembunuhan ini
bukanlah pembunuhan biasa, melainkan terkait erat dengan salah seorang
penggerak revolusi, marat namanya. Pembunuhan tersebut melibatkan charlotte
corday, seorang perempuan yang (sebenarnya) berasal dari kubu lawan politik
marat yang pro revolusi. Beberapa sumber menyebutkan bahwa akses yang diperoleh
corday untuk mendekati marat semata-mata karena ia memiliki daftar nama-nama
orang yang menjadi musuh rakyat, namun saya menarik asumsi bahwa di antara
mereka tentulah ada hubungan yang lebih dari sekedar yang telah saya sebut di
atas, apalagi marat tahu benar darimana corday berasal. Marat sendiri awalnya
merupakan seorang ilmuwan dan dokter yang kemudian beralih menjadi seorang
jurnalis semasa revolusi, tulisan-tulisannya yang berapi-api dan pro rakyat
membuatnya harus kerap bersembunyi karena mendapat banyak serangan dari pihak
lawan politiknya secara brutal. Hingga akhirnya ia dibunuh oleh corday pada 13
juli 1973.
Jumat, 29 Juni 2012
DONGENG SEBELUM TIDUR ‘YUDI’
DONGENG SEBELUM TIDUR ‘YUDI’
‘catatan singkat untuk pameran tri
wahyudi, 1-8 juni di bentara budaya yogyakarta’
Oleh
dwi s. wibowo
![]() |
| kudaku binal seperti laju kue keretaku (photo taken on jogjanews.com) |
Cicak
itu cintaku, berbicara tentang kita, yaitu nonsens. (GM, dongeng sebelum tidur)
Semasa kanak, dongeng apa yang kerap
dibacakan orang tua anda tiap kali menjelang tidur? Dongeng dari khazanah lokal
seperti kisah Angling Dharma? Atau dongeng horor tentang Frankenstein yang
membuat bulu kuduk merinding? Ataukah dongeng Aladin dari Negeri 1001 malam?
Apapun itu, tentu kisah-kisah yang terdapat dalam dongeng tersebut kemudian
begitu melekat dalam benak pembaca sekalian. Ruang memori kanak-kanak yang
masih lapang memungkinkan kisah-kisah tersebut memenuhinya dan menimbulkan
suatu efek paradoksal yang tumbuh dan berkembang seiring pertumbuhan tingkat
kedewasaan seorang anak. Dampak utama yang sering nampak ialah pada pembentukan
pola pikir anak tersebut, meski baru dapat terlihat ketika ia menginjak usia
dewasa. Barangkali menarik membicarakan persoalan efek dongeng terhadap perkembangan
psikologis anak secara lebih lanjut, namun saya rasa itu keluar dari kompetensi
saya yang kali ini lebih ingin membicarakan efek dongeng terhadap kehidupan
perupa. Mengapa demikian? Saya tertarik ketika berkunjung ke pameran tunggal Tri
Wahyudi di Bentara Budaya Yogyakarta pada tanggal 1-8 Juni yang diberi tajuk ‘The
Journey Before Bedtime’, yang saya terjemahkan menjadi Perjalanan Sebelum Tidur.
Kamis, 31 Mei 2012
RUMAH IMPIAN DAN KENANGAN
RUMAH IMPIAN DAN KENANGAN
catatan pada sebuah karya willis turner henry, rumah dan lampion
oleh dwi s. wibowo
Another
summer day, Has come and gone away
In Paris and Rome, But I wanna go home (Michael buble, home)
In Paris and Rome, But I wanna go home (Michael buble, home)
Sejauh
apapun burung bulbul itu terbang untuk mencari makan dan berpetualang, ketika
langit mulai gelap ia akan tetap kembali ke sarangnya sendiri. Sarang yang
telah dengan susah payah ia bangun dari ranting-ranting dan seresah yang ia
kumpulkan sendiri. Peristiwa ini kemudian mengingatkan saya pada peristiwa
lainnya yang tak kalah puitis, pernah ada seorang kawan yang bercerita tentang
sebuah kejadian di tahun 1943 dalam sebuah perjalanan, seorang penyair sambil menghisap
rokok dalam-dalam membacakan sebait puisinya berulang-ulang di trotoar //kemah kudirikan ketika senjakala, di pagi
terbang entah kemana, rumahku dari unggun timbun sajak, di sini aku berbini dan
beranak//. Penyair itu bernama Chairil, Chairil Anwar, mungkin kebanyakan
orang lebih mengenalnya sebagai si binatang jalang dari kumpulannya terbuang.
Ya, Chairil memang si binatang jalang dari kumpulannya terbuang karena ia,
meski kita turut sejauh apapun silsilahnya tetap tak akan kita temukan sebuah
hubungan yang positif yang berkait dengan sikap hidupnya. Chairil tidak lahir
dari satu kebudayaan manapun, melainkan dari sebuah hibriditas, dari
percampuran macam-macam budaya. Ia lahir di medan tahun 1922, dari ibunya yang
kerabat dekat Sutan Syahrir masih mengalir darah minang yang begitu kental.
Namun setelah orang tuanya bercerai, ia menggelandang saja di Jakarta. Jadi
seandainya mau diturut, budaya mana yang dominan membentuk sikapnya?
Langganan:
Postingan (Atom)




